RSS

sequel of a part

06 Feb

Rindu. Ku rindu senja sabtu yang lalu. Menyendiri dari kerumunan. Menikmati kretek. Sembari berharap kau menyusul.

Sepintas. Kau menampakkan diri. Bersama kameramu. Di tengah obrolan senja. Bersama kawan.

Kau menghilang. Sejauh memandang tak nampak ada di gerombolan. Terus ku teliti. Kaos dan kerudung cokelat. Rupanya pun tak nampak di bawah pepohonan. Terus. Berjalan ke barat. Di tepi lautan. Di atas bebatuan.

Kau duduk menikmati hembusan ombak. Sendiri. Dengan lensamu. Membidik panorama.

Mendekat. Tak bersuara. Memberanikan diri duduk di tepimu. Membuka obrolan senja dengan senyum manismu.

Sebuah tangan mendekat. Menyodorkan sebuah pocket camera. Menunjukkan gambar horizon. Hitam putih. Aneh. Justru itu kau tersenyum. Sebuah siluet manis senja ramai tepian pantai.IMG-20130202-WA0001

‘Lensa paling bagus apa?’ tanyamu. ‘Kamera?’ masih saja ku tak paham. Senyum simpulmu disusul bisikan. MATA. Itu jawabannya.

‘Mata, lensa paling sempurna. Mata juga punya banyak mode. Ada grey, sephia dan sebagainya. Ayah buta warna parsial.’

Betapa sempurnanya wanita di sebelah pikirku. Selalu menghadirkan senyum.

Senja semakin lengkap ditemani beberapa burung yang terbang berpasangan.

Sejenak terdiam. Sayup-sayup terdengar lantunan lirik. Kau menyayi.

We live on a mountain
Right at the top
There’s a beautiful view
From the top of mountain
Every morning I walk towards the edge
And throw little things off

Hyperballad. Batinku.

Mentari semakin turun. Mata tertuju ke barat. Sayang. Belum di beri kesempatan menikmati mentari tenggelam.
Senyum. Tawa. Canda. Mengiringi senja berlalu. Langkah berat kembali ke timur.
Rindu tak sebanding waktu.

Langit semakin gelap. Tampak puluhan cahaya disana. Manjamu yang kurindukan pun keluar. Tak ingin kembali. Melewatkan malam disana. Bersama laut, pantai, bintang, malam.

Menuju keramaian malam sebuah kota tepian. Kesederhanaan dan senyummu membuat waktu terasa cepat berputar.

Senja dan malam itu. Senyum tak pernah berhenti. Canda tawa begitu mengalir.
Sesekali ku menoleh. Ke belakang. Sekadar menikmati senyummu di atas motor yang cukup tua.
Roda berputar. Hingga di tengah perkampungan sepi. Hening malam terpecahkan.
‘Aku sayang kamu.’ Ku genggam tanganmu. Semakin erat. Waktu berlalu cepat.

Semakin larut. Kau kembali menuju kamarmu. Kunikmati malam di tepian jalan. Bersama pemutar musikku. Di depan kamarmu. Bulan malam itu mulau menampakkan diri. Meskipun malu-malu. Hanya setengah.

When the moonlight shines
And all of stars smiling
Now the time has come
You leave me all behind

I’m not feeling fine
I’m feeling down
When the moonlight smiling
With his pearly smile

I think is very funny
How does life could be?
Once you appear with a grin

And now you really left me
With no one to hold me
As time goes by I will drown

‘Ah, mocca’s day! Pikirku

Sayang. Kau sudah lelah. Tak apa. Kunikmati sendiri. Menjaga malammu di depan jendelamu.

Kau datang rupanya. Lewat tulisanmu. Kau bercerita, menunggu senja itu. Aku menyusulmu ke barat. Selalu menoleh ke belakang saat kau berjalan.

Kau lanjutkan bersama gambar.

IMG-20130202-WA0000

Di kursi bambu itu. Akhirnya kau menunggu. Namun tetap. Tak kunjung datang. Kau lanjutkan. Mendekat ke laut. Duduk di atas bebatuan. Memainkan lensa.

‘Ternyata kamu lihat’ dan ‘aku juga kangen kamu sejujurnya.’ Begitu katamu. Kau teruskan melankoli malam itu dengan pesanmu. Malam berlalu begitu cepat.

Pagi. Minggu, harus kembali ke kotaku. Belum cukup rasanya menghabiskan waktu bersamamu. Kau mengajak bertemu di jalan pulangku. Seperti biasa. Kau sendiri. Masih dengan kaos dan kerudung cokelatmu. Tanpa alas kaki. lari pagi, katamu. Menuju hutan yang ditakuti banyak pendatang desa. Kau tampak semakin cantik pagi itu. Tanpa riasan.

Ingin selalu ku tolehkan wajah ke belakang. ‘Aaaah, hutan’ teriakmu. Senyum bahagiamu melihat hutan lebat. Sudah lama tampaknya kau tak menikmati udara hutan.

Canda tawa terus mengalir. mengantarkan pada sebuah persimpangan. Kau kembali ke desa sementaramu. Dengan keseharianmu. Untuk ayah, ibu dan adikmu. Seperti kau ceritakan sore itu.

Aku kembali ke rumahku. Empat jam dari desa itu. Bersiap untuk semakin jauh. Sembilan puluh hari ke depan. Ah, entah kapan bisa seperti ini lagi bersamamu. Entahlah. Berbeda kota ataupun pulau. Yang pasti akan merindukanmu. Selalu.

 

 
Leave a comment

Posted by on February 6, 2013 in nothing

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: