RSS

Door! Nationalism Shock Therapy oleh Tor-Tor

18 Jun

Tentang asal-usul nama Mandailing. Banyak yang berpendapat pada persamaan bunyi kata. Ada dugaan Mandailing berasal dari kata: Mande Hilang (dalam bahasa Minang), yang berarti ibu yang hilang. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa nama Mandailing berasal dari nama satu kerajaan, yaitu Mandala Holing. Kerajaan tersebut muncul sejak sekitar abad ke 12, yang wilayah kekuasaannya terbentang dari Portibi di Padang Lawas sampai ke Pidoli dekat Panyabungan sekarang. Dasar atas pernyataan itu disebabkan h(k)oling memiliki kedudukan yang penting dalam budaya masyarakat Mandailing. Terdapat salah satu ungkapan, “Muda tartiop sopatna, nipaspas naraco H(K)oling, niungkap buntil ni adat, nisuat dokdok ni hasalaan, ni dabu utang dohot baris…”. Dimana dalam bahasa Indonesia, untuk mengadili seseorang harus ada empat syarat. Jika keempat syarat itu sudah ada, barulah dibersihkan neraca H(K)oling, iaitu lambang pertimbangan yang seadil-adilnya, kemudian dilihat ketentuan adat, diukur beratnya kesalahan dan barulah dijatuhkan hukuman. Terdapat pula pendapat lain dalam ungkapan, “Surat tumbaga H(K)oling na so ra sasa” yang selalu disebut dalam kehidupan masyarakat Mandailing. Kalimat tersebut berarti, “Surat tembaga H(K)oling yang tidak mau hapus”. Yang dimaksudkan ialah aturan-aturan adat yang tidak mau hapus atau yang senantiasa lestari (kekal, tidak berubah). Semua ini tidak membuktikan dengan pasti hubungan asal-usul masyarakat Mandailing dengan kekuasaan kerajaan Hindu yang pernah menguasai wilayah Mandailing pada masa lampau.

Mandailing dengan sejuta budayanya menyisakan sebuah dentuman akhir-akhir ini. Dengan tarian Tor-tor serta alat musik Gordang Sambilan.

Tarian Tor-tor merupakan tari tradisional asli Suku Batak. Dengan gerakan tarian ini seirama dengan iringan musik (magondangi) yang dimainkan menggunakan alat-alat musik tradisional seperti gondang, suling, terompet batak, dan lain-lain. Tarian ini digunakan dalam acara ritual yang berhubungan dengan roh. Roh tersebut dipanggil dan “masuk” ke patung-patung batu yang merupakan simbol leluhur. Patung-patung tersebut tersebut kemudian bergerak seperti menari, tetapi dengan gerakan yang kaku. Gerakan tersebut berupa gerakan kaki (jinjit-jinjit) dan gerakan tangan.

Jenis tari tor-tor pun beragam. Ada yang dinamakan tor-tor Pangurason (tari pembersihan). Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar. Sebelum pesta dimulai, tempat dan lokasi pesta terlebih dahulu dibersihkan dengan menggunakan jeruk purut agar jauh dari mara bahaya. Selanjutnya ada tari tor-tor Sipitu Cawan (Tari tujuh cawan). Tari ini biasa digelar pada saat pengukuhan seorang raja. Tari ini juga berasal dari 7 putri kayangan yang mandi di sebuah telaga di puncak gunung pusuk buhit bersamaan dengan datangnya piso sipitu sasarung (Pisau tujuh sarung). Terakhir, ada tor-tor Tunggal Panaluan yang merupakan suatu budaya ritual. Biasanya digelar apabila suatu desa dilanda musibah. Tunggal panaluan ditarikan oleh para dukun untuk mendapat petunjuk solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Sebab tongkat tunggal panaluan adalah perpaduan kesaktian Debata Natolu yaitu Benua atas, Benua tengah, dan Benua bawah. Dahulu, tarian ini juga dilakukan untuk acara seremoni ketika orangtua atau anggota keluarganya meninggal dunia. Namun kini, seperti jenis tarian tradisional di Indonesia, tari tor-tor biasanya hanya digunakan untuk menyambut turis.

Dengan menilik kejadian yang (kembali) menghebohkan bangsa Indonesia tentang isu klaim Malaysia terhadap seni dan budaya Tor-tor  beserta Gordang Sambilan seakan menjadi shock therapy untuk kesekian kalinya. Kementerian Penerangan, Komunikasi, Kebudayaan Malaysia dan juga Persatuan Masyarakat Mandailing di Malaysia ingin mencatat Tor-tor dalam akta warisan budaya kebangsaan tahun 2005. Hal ini juga tertuang dalam Dalam UU Warisan Nasional Pasal 69 tahun 2005 Malaysia,  “Any National Heritage ….remain in the possession of its owner, custodian or trustee…”. Atau dengan kata lain, “Setiap Warisan Nasional …. tetap dalam kepemilikan, kustodian pemiliknya atau wali amanat”.

Dengan arti yang lebih mudah adalah dimana Pemerintah Malaysia akan mengakui Tor-tor dan Gordang Sambilan sebagai seni asli komunitas Mandailing dimana sebagai salah satu minoritas di Malaysia. Dalam prakteknya, Tor-tor dan Gordang Sambilan diusulkan oleh komunitas Mandailing di Malaysia dan pengakuan tersebut diperoleh jika secara reguler Tor-tor dipentaskan kepada publik. Tak hanya itu, selain dapat lestari dan terus dipertontonkan, kesenian ini akan mendapatkan dana dari pemerintah Malaysia untuk terus disajikan kepada publik.

Menurut tokoh Mandailing di Malaysia, Ramli Abdul Karim Hasibuan, “Ini sudah hampir 70 tahun kami perjuangkan. Kemarin 14 Juni ada acara Perhimpunan Anak Mandailing, dan kami meminta kepada yang terhormat Menteri Penerangan supaya kebudayaan Mandailing diangkat sama tingginya dengan budaya China dan India, juga dengan budaya Minang dan Jawa. Saat itu disebutkan akan dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam akta warisan negara, sebagai pelestarian suatu budaya”

Pada posisi inilah kita seharusnya berpikir jernih dan positif. Memberikan apresiasi pada hak seni-budaya minoritas yang ada di negara tersebut. Bukan memandangnya asing, inil merupakan salah satu pelajaran positif yang dapat kita ambil dari Malaysia. Pengakuan pada hak seni-budaya minoritas merupakan cara inklusi (merangkul) bukan eksklusi (mengasingkan) kaum minoritas.

Barang tentu kita masih ingat dengan satu keputusan saat kepemimpinan Presiden Indonesia (Alm.) Gus Dur kala itu. Kesenian Barongsai pada era Gus Dur diperbolehkan dipertunjukkan di Indonesia. Namun Barongsai tak lantas diklaim menjadi milik Indonesia, sebatas menjadi kebudayaan saja.

Sejatinya sambutan keras bangsa Indonesia terhadap isu tersebut adalah baik, namun kini kita terlalu lugu untuk mencerna suatu informasi. Memang nasionalisme itu kembali muncul. Namun seperti pada kehidupan, sesuatu yang hadir secara tiba-tiba itupun tak baik. Saat seperti ini saja kita berbicara “Ganyang Malaysia”, ” Bom Malaysia”. Coba saja itu diterapkan pada satu koruptor kelas kakap, namun jangan hanya manis di bibir saja. Pasti mereka akan takut hidup di negara ini. Toh, banyak dari kita bangsa Indonesia juga tak banyak tahu apa itu Tor-tor dan Gondang Sambilan. Inilah nasionalisme yang ditakutkan. Nasionalisme latah.

Begitu pula media yang sejatinya membesarkan informasi ini pun memang bertugas memberikan informasi secepat-cepatnya kepada masyarakat. Namun apakah informasi itu tidak dikaji lebih matang. Mungkin memang negara ini sudah terbiasa dengan berita-berita yang instan. Dalam artian media terlalu lugu untuk mendapat informasi serta terlalu jujur dan cepat untuk menyampaikan berita tersebut. Karena masyarakat kita sangat sensitif dan dampak di mata dunia adalah sangat riskan.

Banyak yang harus diintrospeksikan pada diri bangsa ini. Entah itu ke dalam maupun keluar. Tentang nasionalisme yang sematang-matangnya nasionalisme. Jangan samapai kita termakan retorika nasionalisme instan para politisi. Apalagi sampai kita kehilangan jati diri kita yang terlanjur lekat dengan bangsa yang sangat menghargai bangsa lain. (den)

 
Leave a comment

Posted by on June 18, 2012 in Indonesia ?, Opini

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: