RSS

Belajar Kejujuran Hidup dari Street Fotografi

17 Jun

Lama sudah tak melihat kotak display dengan canda, tawa, wajah murung, kesal, lelah dan sebagainya. Rindu, mengangkat sebuah paket teknologi perekam adegan Tuhan. Ya, kamera. Berlatar belakang sebagai anak jalanan yang berusaha mendapatkan kebahagiaan dalam rangkaian cerita hidup sementaranya. Kali ini Tuhan pun memberikan satu lagi kesempatan nyata menangkap, menganalisa, bahkan hingga ikut menyelami dunia nyata senyata-nyatanya.

Fotografi merupakan sejarah panjang penemuan terbesar sejak Arstoteles dengan Generatio Spontanea-nya hingga evolusi biologi . Dan hingga lahir seorang Joseph Nicephore Niepce yang menyeruak dengan kamera heliografiknya. Bukan rentetan singkat dan mudah seperti kita hanya meminta sebuah teknologi kamera. Namun dunia tetap berputar pada porosnya, mengitari matahari dengan periodenya, dan kita tetap menerjang waktu menunggu saat mati.

Nah, holding time inilah kita banyak merekam kejadian-kejadian sementara dan menikmati melankoli gambar tak bergerak. Berbicara tentang fotografi sangat luas. Banyak jenis fotografi yang dapat diaplikasikan. Tetapi menikmati sebuah hasil karya itu akan terasa dalam jeruji jika kita harus terpatok pada sebuah teori tanpa improvisasi.

Dalam fotografi kita banyak belajar tentang kejujuran. Kejujuran obyek yang terekam. Bahagia maupun sedih semua dapat terekam. Tinggal hati kita yang berbicara terhadap kepekaan.

Begitu halnya dengan Street Photography. Street Photography  merupakan salah satu sarana dokumenter yang menghadirkan subjek dalam kejujuran di tempat-tempat umum seperti jalan, taman, pantai, mall, konvensi politik dan sebagainya. Street fotografi menyimpan dan menunjukan visi murni dari sesuatu. Dapat dianalogikan bahwa  menghadapkan kita pada sebuah cermin kehidupan masyarakat.

Menjadi cerita ironis dengan berkonsentrasi pada manusia secara tunggal ataupun sosial, dengan menceritakan hal tertentu seperti kepedihan. Banyak teori street fotografi yang mengambil pendekatan yang berlawanan dan memberikan rendering yang sangat harfiah dan sangat pribadi, memberikan penonton sebuah pengalaman yang lebih mendalam dari jalan hidup.

Dengan kata yang mudah adalah pesan. Sebuah pesan yang tersirat dalam sebuah permainan cahaya yang ditangkap senyata-nyatanya. Inilah hal tersulit dalam sebuah fotografi, khususnya street fotografi. Bagaimana menghadirkan sebuah karya yang dapat berbicara kepada hati penikmat gambar.

Street fotografi tidak membutuhkan teknik yang rumit, teknologi yang canggih pula. Salah satu hal tersulit adalah menemukan sebuah momentum. Menangkap Human Interest (HI) yang hanya berlalu dalam sepersekian detik. Menangkap sebuah kejujuran adegan yang hanya terjadi dalam sepersekian detik selama hidup.

Inilah street fotografi sebagai sarana belajar kejujuran. Menangkap kejujuran alur cerita Tuhan dan manyampaikan kejujuran terhadap pemirsa. Kejujuran ini akan berdampak tergugahnya hati penonton terhadap realita pesan yang tersirat pada gambar yang ada, bukan lebih dominan menggugah hati penonton terhadap kualitas hasil street fotografi.

Let’s feel message most sequel of life

This slideshow requires JavaScript.

Image reference from :

– Street Tembalang Team (Streeper)
– Jakarta Street Photography
– Indonesia Street Photography

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: