RSS

Celotehan Pagi untuk Papa

02 May

Ketika saya mampu bertahan berdiri disini itu bukan karena seorang wanita yang memiliki kedekatan spesial, bukan mereka yang seperjuangan berlari bersama, bukan materi sebagai pembumbung semangat bahkan bukan juga diri ini sendiri.

Seorang pria yang memiliki hampir kesamaan fisik, yang terpisah jarak sekitar 250 kilometer disana yang membuat saya tetap berdiri bak mereka yang duduk di tahta terhormat padahal mendapat beribu-ribu olokan dan tekanan untuk segera turun dari singgasananya karena buruknya kinerja. Karena beliau lah.

Seorang papa jika aku memanggil. Kini bukan hanya hormat karena unggah-ungguh sebagai putra yang telah dibesarkan dengan perjuangannya namun lebih dari itu, sahabat aku menyebutnya. Ya, saya mengkonversi sebutan orang tua menjadi sahabat tentu dalam beberapa konteks yang pantas beliau disebut sebagai sahabat.

Menjengkelkan sebenarnya ketika mengingat mengapa aku harus berdiri disini dalam satu ekspetasi besar beliau sendiri. Namun dari sisi itulah aku mengerti hakikat mengapa aku harus tetap berlari. Takdir memang, namun lebih dari itu untuk siapa aku mendedikasikan diriku. Alasan yang umum dan sangat mainstream sekali. Tapi, untuk 3 orang yang kini sama-sama berjuang di rumah saja saya belum maksimal kenapa harusmuluk-muluk.

Papa tahu saat saya butuh semangat, saat saya sedang penat atau saya sedang dalam suatu masalah sekecilpun itu. Ya, cukup dengan saling berbicara melalui ponsel. Banyak yang sering terbahas pada forum singkat itu teknik, politik, sosial dan mayoritas pelajaran hidup.

Salah atu yang beliau ajarkan dalam setiap perjalanan dan perjuangan, berjuang dengan nothing to lose. Ini yang masih sangat belum bisa aku contoh dan terapkan. Bekerja ikhlas, bekerja lepas.

Menjadi orang sabar seperti beliau memang susah, menjadi orang nrimo tapi tetap berprinsip itu juga susah. Menjadi penolong yang benar-benar mengharapkan ridhlo Tuhan semakin tambah susah.

Dan kini mengapa aku bisa bilang ‘persetan aku enggak punya sahabat disini’, aku punya sahabat yang benar-benar sahabat. Karena enggak semua rekan seperjuangan, sebangku, seruangan atau bahkan sekamar bisa dijadikan sahabat, apalagi dalam lingkungan yang sebenarnya memang tidak nyaman untuk saya.

Dan aku dedikasikan diri ini paling utama untuk keluargaku, papa, ibu dan dek nasti. Beliau inspirator terbesarku, bukan mereka-mereka entah darimana asalnya dengan terus menerus mengucapkan kata motivasi.

Aku yakin satu hal lagi, kesederhanaan beliau akan membawa beliau ke derajat kehormatan yang lebih tinggi

 
Leave a comment

Posted by on May 2, 2012 in Curhat

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: