RSS

Kokok, munggah ora iso medhun ora wani! Lah, Bupati opo patung?

06 Apr

Keras dan tegas jika melihat judul yang terpampang. Ini mungkin salah satu suara dari warga Cepu dan warga kabupaten Blora pada umumnya. Bukan untuk menghakimi perseorangan, tapi satu sistem di dalam pemerintahan.

Sebuah perjalanan di malam hari tanggal 5 April 2012 sebagaimana kebanyakan mahasiswa daerah ingin merasakan longweekend bersama keluarganya di kampung halaman. Moda transportasi sepeda motor menjadi salah satu dambaan seorang mahasiswa. Muda dan memiliki stamina yang masih cukup untuk menempuh 250 km jalan raya. Ketika hasrat menggelora terpampang jelas kebahagiaan angan -angan berkunoul bersama keluarga sekejap rusak mood itu.

Memasuki kecamatan Kunduran, kabupaten Blora kondisi jalan rusak dan berlubang. Memasuki daerah pemerintahan kecamatan Ngawen pun masih sama, rusak parah tidak ada jalan yang bisa dipilih. Memasuki kecamatan Blora sendiripun demikian. Hal itu terus dirasakan hingga kawasan hutan jati sebelum memasuki kecamatan Cepu. Satu -satunya jalan yang mulus hanya ada di depan Pendopo Kabupaten Blora dan sekitarnya. Jengkel, lelah dan marah. Ya, ini 2012 mengapa masih ada kondisi seperti ini. Dan jalan raya yang membentang pada kabupaten Blora bukan merupakan jalan utama seperti pantura. Mengapa bisa rusak separah itu?

Beralasan, kontur tanah yang memang labil, atau alasan apalagi yang akan dikemukakan para petinggi pemerintahan kabupaten Blora? Yang pasti kami meragukan kredibilitas mereka yang duduk di panggung pemerintahan kabupaten Blora! Tidak selalu stand by di kota Cepu yang notabene bagian dari kabupaten Blora memang, namun kami tidak bodoh. Banyak cerita, banyak informasi entah benar atau tidak. Yang pasti apa yang keluar dari mulut rakyat adalah keluhan mereka.

Kota Cepu misalnya, jalan yang sudah rusak begitu parahnya sepanjang jalan Ronggolawe memaksa mata batin sebuah anak perusahaan BUMN turun tangan. CEO-nya asli Cepu kah ? Tanyakan saja pada hati anda bapak dan ibu yang terhormat ! Yang pasti kinerja anda sejauh ini sangat buruk. Dan ini menambah keras mereka yang progresif untuk bersuara supaya Cepu melepaskan diri dari kabupaten Blora.

Infrastruktur merupakan pondasi dan bagian utama yang terpenting dalam pembangunan daerah. Infrastruktur jalan salah satunya. Bagaimanapun roda ekonomi dan sektor lainnya bergantung pada infrastruktur jalan.

Yang terhormat pak Kokok, bayangkan saja seorang pedagang yang harus mengambil dagangannya dari daerah Purwodadi ataupun Semarang, dia berasal dari kota Cepu, setibanya di warung dan dibuka pasti dagangannya yang akan dijual kembali itu hancur.  Bagaimana petani yang ingin menjual gabahnya? Bisa dipastikan harga gabah lebih murah dari biaya reparasi truck mereka. Mereka yang ingin merasakan teduhnya siang hari di tengah hutan jati pun mengurungkan niatnya karena kondisi jalan yang parah, yang ada justru ingin cepat sampai rumah. Satu lagi yang bisa ditangkap, jika mau menilik mengapa sedikit sekali moda transportasi terutama darat yang menuju kabupaten ini, seharusnya kita bisa berpikir. Kabupaten ini kurang menarik, TIDAK MENARIK bahkan. Belum lagi kendaraan pemerintah rusak karena jalan yang hancur, minta ganti. Semakin mengulur, berarti semakin banyak mereka yang mengeluh, marah bahkan mengeluarkan kata -kata kotor. Dan itu tandanya semakin bertambah pula dosa anda yang terhormat.

Entah mau dibawa kemana Blora ini ? Banyak kabupaten/kota yang berlomba -lomba memajukan daerahnya di mata daerah lain, namun bagaimana dengan Blora?Boro -boro jalan di tempat, berdiri saja belum. Nol prestasi kabupaten Blora. Tak akan menyejajarkan dengan kota Semarang, Kudus, Pati atau bahkan kota Solo. Terlalu jauh, sangat jauh. Padahal kita dalam satu provinsi. Ada yang salah dalam sistem pemerintahan ini. Jangan pernah menyalahkan besarnya geografis cakupan wilayah kabupaten Blora. Yang kami tahu adalah, pak Kokok dan kawan -kawan tidak bisa bergerak. Dan itu kenapa tidak ada investor besar yang mau mendukung pembangunan di daerah ini. Seorang bupati dan jajarannya seharusnya bisa dan mampu untuk melakukan lobi ke atas atau turun untuk menyelesaikan masalah. Sejauh ini, mereka turun ke bawah hanya memberikan harapan kosong bahkan menghapuskan harapan.

Jangan katakan jalan yang rusak adalah jalan Provinsi! Jika anda bekerja karena rakyat, jika anda juga mengakui bahwa anda bagian dari rakyat perjuangkan hal itu ke atas.  Atau anda bisa turun langsung, alihkan dana yang sebenarnya tidak mendesak digunakan. RAPBN saja ada RAPBN -P, kenapa RAPBD tidak ada RAPBD -P. Ya, itu jika saja tidak ada niatan jelek dari yang terhormat disana, wong APBD saja tertunda terus.

Inilah suara mereka yang masih cinta dan bangga akan tanah kelahirannya. Pribadipun menyayangkan jika posisi Bupati tersebut tidak memberikan prestasi tersendiri terhadap pembangunan tanah kelahiran. Yang terhormat dan Bapak Djoko Nugroho khususnya, sederhanakan pikiran anda dan kawan -kawan. Analogi sederhana bisa menghasilkan satu perubahan yang signifikan.

 
Leave a comment

Posted by on April 6, 2012 in Opini, Teriakan!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: