RSS

Ironi Independen dan Partai Politik

03 Mar

Saat ini sedang gencarnya pemberitaan tentang UU calon kepala pemerintahan independen. Ada satu pihak yang kebakaran jenggot dengan isu ada pula yang merasa ini angin segar untuk pemerintahan.

Gejolak dalam yang tak biasa ini sangat hebat sebenarnya jika ditilik. Bagi partai politik wacana ini seperti kebakaran rumah yang datang tiba -tiba. Ada yang jelas menampakkan kepanikannya karena rumah mereka berpotensi terbakar dan ada yang menyembunyikan kepanikannya. Dalam Pasal 6a ayat 2 UUD 1945 mensyaratkan, “Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum.” Dalam penjabaran lebih dalam undang -undang ini, parpol merupakan satu wadah untuk menyaring kader ataupun bakal calon yang kompeten.

Semakin banyak dan berkembang partai politik di Indonesia merupakan angin segar untuk praktek sebagai negara demokrasi. Tidak seragamnya sistem yang ada di dalam satu parpol dengan parpol lain merupakan salah satu pengaplikasian Bhinneka Tunggal Ika. Namun saati ini apakah benar tujuan dari parpol itu tunggal ikaCharacter building yang ada di dalam parpol pun terkesan tertutup. Tidak mudah menyatukan satu individu menjadikan satu tujuan yang benar -benar nasional. Apalagi jika visi dari parpol itu sendiri sudah melenceng jauh.

Saya menyebutnya dalam teori pribadi saya sendiri, pohon visi Indonesia. Entah salah atau tidak, menurut saya partai politik berperan sebagai batang dari sebuah pohon itu. Pohon tersebut sebagai penopang anggota layaknya daun dan ranting. Ketika di dalam batang tersebut terdapat beberapa sistem transportasi doktrin yang menghubungkan akar sebagai sumber sekaligus tujuan utama. Ya, akar dan tanah itu adalah Indonesia dan bangsa Indonesia. Akar sebagai penyuplai doktrin kenasionalan yang akan didistribusikan melalui pembuluh yang ada di batang. Batang harus memiliki prinsip dan sistem yang kuat untuk mengaplikasikan doktrin itu. Daun dan ranting, sebagai kader parpol yang terpilih, dia pun harus mendapatkan secara utuh dan gamblang doktrin serta prinsip yang di distribusikan parpol tersebut. Dengan seutuhnya konsep kenasionalan itu daun dan ranting yang benar -benar pilihan bisa memasak bahan itu untuk menjadi satu buah yang manis. Buah yang merupakan kesejahteraan Indonesia yang sangat manis. Lalu buah itu dapat dinikmati oleh seluruh bangsa.

Menurut saya saat ini itu tidak berjalan sesuai analisis saya. Partai politik yang ada jalan seenaknya sendiri tanpa ada sedikitpun konsep kenasionalan. Kader mereka berjalan sendiri semau mereka, parpolpun tidak memiliki visi ke-Indonesiaan yang jelas untuk ditularkan. Dan saat ini akar Indonesia dibiarkan hidup sendiri di dalam tanah.

Dengan adanya wacana independensi calon kepala pemerintahan sangat membuat gusar partai politi. Namun itu semua bukan tak berdasar. Intrik partai politik yang dijalankan kadernya sudah kelewat busuk. Entah sudah terskenario atau tidak apa yang kader parpol itu lakukan sudah menciderai bangsa Indonesia, ya Untuk Rakyat. Prakltek Korupsi, kolusi dan nepotisme yang saat ini sedang berkembang sangat sudah tidak wajar. Mereka tergiur oleh kekuasaan dan materi. Korupsi saat ini bukan hal aneh. Ketika seorang putri pilihan Indonesia yang berjalan di atas catwalk saat itu terlihat sangat cerdas, pintar, dan sangat Indonesia masuk lubang neraka menjadi tersangka. Siapa yang salah? Partai Politik bukan? Jika kita menilai individunya sendiri pun memang berpengaruh sedikit banyak. Namun mereka juga bagian dari partai politik. Kita tidak bisa menilai partai politik milik seseorang bak sebuah perusahaan. Di dalam parpol terdapat interkoneksi yang sangat erat, apalagi untuk para kadernya. Kalu satu kader sudah terkena penyakit pasti menular. Apaagi jika sistem dan visi parpol itu sendiri yang sudah busuk, ya sudah.

Itu dasar pemikiran mengapa muncul wacana calon independen. Kita memiliki individu -individu yang pintar, cerdas dan kompeten serta nasionalis. Seperti Mahfud MD, Dahlan Iskan, atau Bambang Wijanarko sekalipun. Mereka belum tersentuh benar dengan digdaya politik. Ditambah dengan track record-nya yang bisa dibilang gemilang membuat wacana calon independen menyeruak.

Calon independen pun bukan berarti baik seutuhnya. Baru beberapa yang terlihat oleh kita akan efektif dan berprestasi langkah mereka. Tak ayal jika beberapa petinggi parpol meneriakkan penolakan akan wacana ini. Mereka berkomentar banyak tentang amandemen UUD 1945 yang rumit, ada juga yang berbicarablak -blakan meragukan jika yang mencalonkan diri tukang becak bagaimana, dan ada juga yang berbicara independensi merusak tatanan demokrasi. Yang pasti itu kilah mereka untuk tetap eksis mendapatkan tempat terbaik untuk kadernya.

Memang dalam praktek independensi nanti semua warga Indonesia berhak untuk mencalonkan diri jika dia mampu dan mendapatkan dukungan yang cukup. Kompetensi lah yang berbicara. Jika komentar seorang petinggi parpol khawatir akan ‘tukang becak’ mencalonkan diri itu merupakan kepanikan yang sangat tidak wajar. Meskipun itu kiasan belaka. Potensi praktek memperkaya diri memang juga masih ada. Tetapi ini tidak akan menimbulkan suatu kerusakan sistemik yang menjalar kemana -mana. Dosa -dosa itu tidak akan terus mengalir seperti saat ini. Satu kader kena dan kader yang lain pun kena. Dan begitu seterusnya.

Sulit mendiskripsikan independensi di negara ini. Jikapun belum akan terlaksana wacana tersebut, mereka yang saat ini memiliki kinerja baik dan belum tersentuh oleh intrik politik busuk seharusnya diberi kesempatan yang sangat besar. Mungkin saja mereka adalah salah satu dari akar yang terpotong. Akar kebangkitan nasional baru. Walau terpaksa mereka masuk dalam sebuah parpol seperti yang disyaratkan UUD 1945 itu, jangan sampai merusak tatanan program yang sudah terbangun rapi di otak mereka. Terkadang mereka mempunyai kehidupan dan pemikiran sederhana yang selama ini dicari bangsa Indonesia, bukan sebuah sistem rumit yang disajikan parpol.

Bukan anti politik, bukan nasionalis, bukan juga ingin duduk di tempat yang indah itu. Analisis kotor dari seorang teknik yang menganggap menarik polemik negara ini. Sedikit merasakan dampak carum -marutnya bangsa yang indah ini. Pelajaran ini bukan untuk saya dan anda. Merupakan rute yang rentan menular untuk anak dan cucu kita.

Selamat Sore

 
Leave a comment

Posted by on March 3, 2012 in Indonesia ?, Opini, Politik

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: