RSS

Pengusaha Makan Uang, Warga Minum Debu

26 Feb

Pada sebuah surat kabar nasional cetakan Selasa, 21 Februari 2012 terdapat satu news tentang wajah eksploitasi pertambangan di Indonesia. Sekaligus menggambarkan licik dan licinnya kompromi pemerintah dan pengusaha.

Di surat kabar itu menuliskan lokasi pertambangan tersebut di daerah Jalan Lingkar Selatan kota Jambi. Tidak banyak orang mengetahui kondisi sebuah lokasi pertambangan di Indonesia. Mungkin kebanyakan berpikir bahwa lokasi eksploitasi jauh dari pemukiman dan memiliki akses jalan yang ‘eksklusif’. Dalam artian beda jalan dengan pengguna jalan umum. Pada artikel tersebut dijelaskan bahwa lokasi itu adalah lokasi penambangan batubara yang merupakan salah satu yang terbesar di kota Jambi. Selama tiga tahun beroperasi semakin banyak truk -truk yang melintas untuk sekedar membawa komoditi tersebut.

Dapat dibayangkan saja, selama tiga tahun jalan tanpa ada perbaikan sama sekali. Dijelaskan pula rata -rata jumlah truk yang melintas setiap harinya sekitar 500 hingga 600 truk dengan rata -rata muatan seberat 2 ton. Jika saja dibandingkan dengan kekuatan rata -rata aspal dan tanah sangat tidak relevan. Dan alhasil terbentuklah kawah neraka sepanjang jalan itu. Belum lagi jika itu musim kemarau, debu dari jalannya sangat mengganggu pernapasan. Itu saja belum ditambah dengan debu yang dihasilkan batubara yang mempunyai kandungan karbondioksida (CO2) sangat tinggi. Bagaikan neraka yang sangat menyiksa. Tak hanya itu, lokasi penambangan beroperasi mulai pukul 04.00 WIB. Mereka para truk harus mengantri lebih awal jika ingin mendapat giliran mengangkut batubara lebih banyak lagi. Dan sepagi buta itulah bayi -bayi di sekitar lokasi sudah dicekoki berbagai racun melalui hidungnya.

Bagaimana jika musim penghujan? Sudah bisa diprediksi bahwa kawah candradimuka itu bak kolam ikan yang keruh. Jalanan yang mulanya aspal habis tergerus beratnya muatan ban berjalan itu. Dan lumpur yang menempel pada ban truk saat keluar dari lokasi penambangan menempel di sepanjang yang dilalui. Hasilnya, licin bukan main.

Tak berbeda jauh dengan kejadian di pulau seberang tadi. Sebuah lokasi di dekat kota Semarang, tepatnya Kelurahan Batursari, Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Yang membedakan adalah hasil tambangnya. Di lokasi ini diambil tanah pekat berwarna coklat kekuning -kuningan dari sebuah bukit yang menjulang tinggi. Tiap harinya ratusan lebih truk -truk pengangkut pasir itu berlalu lalang di jalan yang panjangnya sekitar 2 km itu. Dengan melewati sebuah perkampungan yang sangat padat penduduk. Truk itu bak kekuatan besar yang seolah -olah akan menghancurkan kehidupan mereka.

Berdasarkan survei ketika melewati jalan tersebut truk -truk tersebut beroperasi mulai pukul 05.00 WIB. Secara kebetulan rumah sementara saya berada tak jauh dari jalan tersebut. Jalan tersebut merupakan jalan tikus menuju tempat perkuliahan saya. Jalan yang ada sebenarnya tak terlalu lebar. Benar hanya cukup untuk dua truk yang saling berpapasan. Pada satu tikungan tak jarang bak truk yang saling berpapasan tersebut bersenggolan. Bukan masalah bagi mereka.

Memprihatinkan memang jika mengerti kondisi jalan yang sangat tak layak dilewati kendaraan bermotor roda dua tersebut. Miris, ketika suatu pagi saya harus berangkat lebih awal. Puluhan truk sudah lebih sigap mengamankan jalan tersebut. Pukul 05.30 WIB debu yang berterbangan sangat tebal ditambah emisi gas buang truk yang sangat hitam. Kondisi genting rumah di sekitar jalan pun sudah berdebu. Daun di pinggir jalan bukan lagi berwarna hijau cerah, melainka hijau keabu -abuan. Ditambah gesekan roda dengan jalan tak beraspal itu. Miris. Dapat dibayangkan saja bagaimana jika kita yang terbiasa hidup di daerah yang hijau tanpa polusi tiba -tiba dipindahkan ke daerah tersebut.

Tercatat hampir banyak anak -anak kecil yang hidup di lokasi tersebut. Sudah pasti kehidupan mereka tidak sehat. Pagi yang harusnya mereka menghirup udara segar tetapi embun racun yang pekat harus mereka hirup. Entah apa yang dipikirkan oleh golongan tua di daerah tersebut.

Ada satu catatan lagi dari saya, sepanjang akses menuju lokasi penambangan tersebut terdapat 3 hingga 4 kali pungutan untuk truk yang keluar dari lokasi penambangan tersebut. Besarannya tak tanggung -tanggung, Rp 2.000,00 per truk per pungutan. Saya kurang mengerti itu resmi atau liar atau bagaimana. Dan yang kurang dipahami lagi adalah pungutan tersebut mewakili siapa dan bagaimana pembagiannya. Entah 3 hingga 4 kali pungutan tersebut mewakili jumlah RT yang dilintasi truk -truk tersebut atau kah ulah -ulah nakal warga yang ingin cepat kaya. Jikapun dibenarkan seharusnya pungutan tersebut digunakan untuk memperbaiki infrastruktur yang sangat sudah parah itu. Tetapi fakta berkata lain.

Di atas adalah bagian dampak dari sisi kesehatan. Bagaimana jika dilihat dari dampak ekonomi? Akses merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi biaya produksi terutama distribusi. Ini sangat tidak mendukung program ekonomi kerakyatan. Jika saja sebuah kendaraan berisi telur, kendaraan itu harus terperosok di sebuah jalan yang berlubang sangat dalam. Getarannya dapat menyebabkan telur tersebut pecah. Padahal telur itu akan dijual lagi. Kerugian yang lumayan bagi seorang pedagang. Belum lagi waktu tempuh yang menjadi lebih lama karena harus memilih jalan yang relatif baik. Itulah ironi bangsa kita.

Investasi seperti inilah yang sangat tidak memihak rakyat. Pemerintah yang lebih memudahkan para investor untuk mengekploitasi daerahnya tanpa memikirkan dampaknya. Mungkin para pejabat itu pada sesekali harus diajak berjalan di lokasi tersebut. Tetapi itupun mungkin tidak akan mengetuk hatinya. Ya, yang penting bagi mereka pembuat keputusan adalah investor sudah mengetuk kantong mereka masing -masing. Investasi yang sangat tidak sehat.

Tak ada niatan baik dari investor sejauh ini untuk melakukan konservasi pada lingkungan yang mereka eksploitasi. Padahal pada truk -truk yang biasa beroperasi tertempel logo -logo korporasi mereka. Ironisnya lagi, mayoritas adalah perusahaan plat merah alias BUMN. Sudah dapat ditebak jika terdapat banyak permainan di balik itu. Dan lagi -lagi warga menjadi korbannya.

Indah sebenarnya bukit yang saat ini sedang dikeruk itu. Menjulang tinggi, gagah terutama di sore hari jika dilihat dari kejauhan bak lukisan yang Agung. Namun sekarang lukisan itu sudah dikotori dengan gambaran bulldozer -bulldozer kuning di atasnya.

Sampai kapan pemerintah dan korporasi dalam negeri mematikan keindahan alam Indonesia, sampai kapan mereka bersekongkol meracuni bayi -bayi yang tak berdosa dengan kepulan asap truk dan sampai kapan mereka membuat para pedagang merugi karena dagangannya hancur karena tak terurusnya infrastruktur.

Wahai yang terhormat dan yang terkaya disana! Lihatlah tangisan bayi itu! Mereka butuh bernafas. Mereka butuh angin sepoi -sepoi dalam terik matahari. Mereka butuh jalan yang tak licin ketika mereka ingin berlatih berjalan saat hujan. Mereka ingin buah yang bersih dan higienis dari tumbuhan yang orang tua mereka tanam. Mereka lelah menyapu rumahnya setiap menit!

Lihat orang tua yang mengeluarkan uang banyak hanya untuk menyewa mobil bak terbuka untuk mengangkut telur ayam itu. Kini mereka tertunduk kesal. Retak, pecah dan bau amis telur itu. Seperti telah retak dan pecahnya jiwa peduli anda! Seperti bau amisnya keringat haram anda!

Yang Terhormat dan Yang Terkaya, buka mata hati anda! Sampai kapan mereka akan tersiksa atas ketawa bahagia anda! Bahagia akan tebalnya kertas bergambar bung Karno dan Hatta. Sampai kapan? Mungkin anda berhenti ketika mereka mati! Mati karena udara knalpot busuk anda! Mati karena tak bisa membeli makan! Dan anda akan mati dengan bukit yang anda habisi!

Terima Kasih

Posted with WordPress for BlackBerry.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: