RSS

Dahlan, Jurnalis, CEO, Menteri dan Analogi Ekonomi Kerakyatan

26 Feb

Surakarta, 25 Februari 2012, Gedung auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta riuh dengan sekumpulan orang yang berhasrat menambah ilmu mereka di weekend saat itu. Seminar Nasional yang bertema Mengembangkan Ekonomi Kerakyatan menuju Indonesia Sejahtera yang diselenggarakan oleh Koperasi Mahasiswa (Kopma) UNS sekaligus pembukaan RAT UKM yang sama. Sekira seribu orang memenuhi auditorium yang cukup luas tersebut. Tak hanya mahasiswa saja, banyak juga mereka yang setengah baya entah dari kalangan profesi apa saja.

Terdengar agak sumbang, jika menilik tema yang diangkat dengan keberadaan saya disana. Seorang teknik (katanya) berada di seminar tersebut. Tak lain karena pembicara dalam acara tersebut adalah beliau Menteri BUMN RI, Dahlan Iskan dan satu lagi adalah Ketua BPP Hipmi, Raja Sapta Oktohari. Khusus pembicara kedua ini saya memang kurang mengenal, yang saya tahu hanyalah beliau merupakan pengusaha muda dibidang penerbangan. Namun, untuk pembicara pertama kita tidak akan ragu siapa beliau dan bagaimana track recordnya. Sedikit samar ketika tahu materi yang akan dibawakan beliau adalah tentang ekonomi kerakyatan. Kita tahu sebenarnya latar belakang beliau sebagai jurnalis, CEO sebuah korporat dan sekarang menjadi CEO untuk korporasi plat merah.

Jam di seluruh penjuru ruangan sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB acara pun akhirnya dibuka. Dan ketika itu, satu rombongan memasuki ruangan diiringi alunan musik gamelan yang khas akan kota Solo. Ya, rombongan itu merupakan rombongan pembicara seminar dengan beberapa panitia beserta jajaran rektorat. Beberapa kawan pers mengiringi pula untuk mengabadikan orang nomor satu di kementerian BUMN tersebut. Dan beberapa penari daerah yang mengiringi rombongan kemudian mendisplaykan diri di depan panggung. Senyuman renyah dan lambaian tangan yang ringan menyapa para peserta acara. Seperti biasa dan sudah menjadi trand mark pak Dahlan, kemeja putih lengan yang dilipat, celana kain hitam dan sepatu ketsnya yang sangat identik. Sejauh mata menyorot merk sepatu itu adalah New Balance. Sangat ringan pula ketika beliau akan duduk di tempat yang disediakan, beliau menyalami beberapa peserta yang menunggu beliau.

Seperti acara -acara yang lazim diselenggarakan, acara pertama adalah menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama -sama. Meskipun terjadi sedikit trouble pada musik yang akan mengiringi, itu tidak mengurangi kekhitmatan saat menyanyikan lagu kebangsaan tersebut yang pada akhirnya tanpa diiringi musik. Sambutan pertama diberikan oleh Ketua Umum Kopma UNS selaku penyelenggara. Saat ia memberikan sambutan, ia tak butuh waktu lama. Karena ia sudah diwelingi pak Dahlan jika beliau kurang suka sambutan yang panjang. Sontak seisi gedung riuh dengan tepuk tangan. Acara yang sejatinya dihadiri oleh orang nomor satu di Kota Solo ini, Pak Joko Widodo (Jokowi) yang saat itu berhalangan hadir karena sedang mendampingi mobil dinasnya uji emisi di Jakarta. Ya, Esemka yang sedang gencar -gencar diberitakan sebagai hasil karya anak bangsa sekaligus awal kebangkitan produksi mobil nasional itu. Acara dilanjutkan sambutan oleh Rektor UNS yang secara gamblang menceritakan tentang UNS dan kota Solo.

Tiba pada acara utama, dipanggillah kedua pembicara tersebut untuk naik panggung yang dilengkapi dengan beberapa sofa cantik itu. Sebagai moderator beliau dosen UNS sekaligus pembina dari Kopma UNS. Dan dengan cekatan sedikit agak berlari pak Dahlan ‘mengalahkan’ pembicara mas RSO untuk sampai di sofa. Terjadi sedikit perebutan kursi dimana pak Dahlan lebih nyaman duduk di sofa yang letaknya di pinggir ketimbang memilih sofa yang ada di tengah. Cukup menarik.

Mas Raja Sapta Oktohari ata lebih singkat dipanggil mas RSO menjadi pembicara pertama. Beliau sebagai ketua BPP Hipmi menjelaskan beberapa data tentang enterpreunership di Indonesia. Dari hampir 250 juta penduduk Indonesia, 4,5% adalah pengusaha muda. Beliau juga menuturkan bahwa sebenarnya tahun 2012 adalah salah satu tahun yang sangat strategis untuk pengusaha, khususnya di Jawa Tengah. Menilik dari data, pada tahun 2013 Jawa Tengah akan mengadakan Pemilukada Gubernur yang pasti akan menyita banyak perhatian. Sedangkan setahun setelahnya, 2014 akan lebih kompleks yaitu Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden dan Wakil Presiden. Pada dua tahun ini sepertinya kurang pas untu para pengusaha, khususnya para pengusaha muda. Intrik politik akan mengganggu proses usaha tersebut yang dampaknya adalah pada ekonomi kerakyatan itu sendiri.

Setelah sekira 30 menit berbicara panjang lebar di atas mimbar, tiba waktu untuk pembicara utama beliau pak Dahlan Iskan. Berbeda dengan pembicara sebelumnya, beliau tidak melirik lokasi yang sama untuk berbicara. Beliau tidak berdiri di sebuah mimbar yang akan terlihat resmi. Beliau pun hanya berdiri beberapa meter di depan meja dan sofa dengan sebuah mic kabel. Dengan suaranya yang khas beliau mulai menyapa para hadirin. Pada awal beliau bercerita sedikit tentang pengangkatan tema seminar. Pada sebuah hari panitia menemui beliau di kantornya untuk berkonsultasi tentang materi. Beliau katakan terserah untuk temanya. Saat itu beliau berkata,’sekarang saya sedikit menyesal kenapa saya bilang terserah. Karena saya bingung jika ngomong tentang ekonomi kerakyatan‘. Sontak para hadirin pun tertawa ringan mendengar perkataan beliau.

Menurut beliau, Indonesia belum seutuhnya menerapkan ekonomi kerakyatan. Dan jika beliau membuat kebijakan pun tak mungkin ekonomi kerakyatan itu terlaksana baik pada tahun ini pula. Masih kata beliau, Indonesia cukup memerlukan waktu 12 tahun lagi untuk benar -benar menerapkan ekonomi kerakyatan. Dalam menyampaikan materi pun beliau lebih sering menganalogikan dengan hal -hal yang sepele sehingga apa yang beliau sampaikan sangat mudah untuk diterima. Pada saat sesi tanya jawab, ada sebuah pertanyaan dari kawan pengurus Kopma UGM yang menanyakan tentang potensi kearifan lokal para pengusaha lokal di Jogjakarta sebagai contoh dalam mendukung program ekonomi kerakyatan. Menurut DI, potensi itu sangat besar mendukung program tersebut. Dengan begitu asas desentralisasi akan berjalan sesuai otonomi daerah masing -masing. Dan faktor kearifan lokal tersebut sangat berpengaruh karena mereka mempunyai kekhasan masing -masing. Tetapi DI menyayangkan jika desentralisasi tersebut sekarang mulai luntur. Ya, beliau berkata jika desentralisasi tersebut sudah mulai terkena dampak sentralisasi politik di Indonesia. Mereka yang bertanggung jawab atas masing -masing otonomi daerah malah membawa sebuah permasalahan daerahnya ke arah politik yang mengerucut pada sentralisasi politik di pusat sana.

Ada satu pertanyaan lagi yang sebenarnya ingin saya tanyakan kepada beliau, hanya kalah cepat saja dengan beliau dosen UNS di depan. Ya, tentang ‘panasnya’ isu kenaikan BBM di Indonesia yang sepertinya tinggal menunggu waktu saja. Dengan ringan pak DI menjawab kita tunggu saja. Beliau berkata bahwa jajaran elit pemerintahan sedang membahas sangat serius hal ini. Termasuk beliau yang sangat vokal dihadapan pak Presiden yang sangat mendukung kenaikan harga BBM. Menurut beliau, kenaikan harga yang akan terjadi pasti sedikit membawa dampak pada kemiskinan. Tetapi itu tidak akan bertahan lama. Ekonomi kerakyatan yang sangat mendukung akan menunjukkan grafik menanjak yang relatif cepat untuk merespon kenaikan harga tersebut. Memang dampak kemiskinan akan terasa pada awal, tetapi beliau yakin itu tak akan berjalan lama. Beliau dalam satu statementnya bahkan yakin setelah kenaikan harga BBM tersebut pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa menyentuh US$ 90.000. Beliau juga menuturkan bahwa sebenarnya rakyat Indonesia tidak terlalu banyak bergantung pada subsidi negara yang sangat besar itu. Beliau sangat yakin dengan dampak positif kenaikan harga BBM tersebut.

Ada satu lagi pertanyaan dari mahasiswa Psikologi UNS, kalo tidak salah. Dia menanyakan jalan seperti apa yang akan ditemui saat akan menjadi pengusaha. Dengan enteng pak DI menjawab, ‘kamu harus merasakan ditipu orang, kamu harus merasakan jatuh, bangkit dan jatuh lagi’. Sebuah analogi ringan dari beliau, layaknya orang belajar mengendarai sepeda. Mulai dari belajar nuntun sepedan belajar memegang stang, belajar dengan mengayuh satu pedal dan jatuh kemudian baru belajar mengayuh dua pedal dengan duduk di saddlenya. Jika sudah lacar baru kita harus berani balapan. Masih kata beliau bahwa belum cukup sampai situ saja, saat berlari kencang kita juga harus merasakan nyemplung jurang. Barulah ketika kita sudah merasakan beberapa kali jatuh kita bisa berjalan sedikit lancar sebagai pengusaha. Ya, belajar dari kesalahan dan musibah. Analogi yang ringan dan sederhana, namun sangat bermakna.

Bukan karena terinspirasi banyak oleh Dahlan Iskan, bukan karena ingin meniru apa yang beliau kerjakan, jika iya pun itu akan menghilangkan jati diri. Tak lebih kagum dan ingin tahu pola pikir beliau. Kesederhanaan yang sangat membangun. Senyuman yang sangat ringan dan renyah. Kekonyolan tingkah di luar mereka yang sejajar telah membawa beliau pada tempat yang tepat serta menaikkan derajat kewibawaannya.

Selamat siang

Posted with WordPress for BlackBerry.

 
Leave a comment

Posted by on February 26, 2012 in Berita, Opini

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: