RSS

Single Street Fighter, Pramuka dan ‘Abang’ Kucingan Kelas 4 SD

20 Feb

Senin, 20 Februari 2012 merupakan babak baru bagi saya untuk menempuh pendidikan di perantauan. Kini sudah memasuki semester keempat. Ya, benar -benar tinggal sejengkal langkah saya. Tapi sejengkal itu masih sangat panjang. Dengan bebatuan dan aliran arus yang sangat kuat.

Di lain sisi berbekal kesalahan pada semester sebelumnya, optimisme tetap berjalan sebagaimana mestinya. Meskipun entah nanti di tengah jalan optimisme itu luntur. Allahualam.

Tidak akan lebih banyak berbicara perjalanan yang akan saya tempuh. Tetapi lebih sangat menarik untuk menceritakan perjalanan hari ini.

Diawali dengan sebuah pagi yang sepertinya sangat kelam untuk memulai semester baru ini. Dengan empat tas penuh dan sebuah motor butut dengan ban depan bocor. It’s great damn. Tetapi lupakan saja.

Di mulai dengan pertemuan kawan seperjuangan untuk memulai rutinitas seperti biasanya. Ya, laboratorium energi yang mini, tawa dan canda lepas layaknya sepasang kekasih yang lama tak jumpa. Tak bisa dipungkiri, itulah keluarga kecil di tempat saya ‘terpaksa’ berada.

Sebuah arloji butut menunjukkan pukul 14.00, saatnya merebahkan badan di pembaringan sementara. Ditemani rintik hujan bersama kata -kata kotor kawan yang sedang asyik mengolah si kulit bundar dengan tangan. Ya, saya sembari menunggu pukul 16.00 tiba.

It’s time, I think ! Memacu si supra menuju sebuah bumi perkemahan yang tak jauh dari kota Semarang dan tak tahu pula saya sebenarnya tempat. Layaknya orang jatuh cinta, dia akan lakukan apa saja untuk dapatkan cintanya. Berbekal feeling pada akhirnya saya tiba di Bumi Perkemahan Candra Birawa Puskepram kwarda 11 Jawa Tengah. Tujuan disana hanya satu, reuni kecil dengan sebuah badge yang pernah melekat di lengan saya saat SMP dulu. Yes, Capung Giga. Itulah tempat pertama kali munculnya jiwa petualang saya. Alhasil, kulit yang dulu bersih sekarang hitam legam dan kotor. Tidak masalah.

Tahun ini, scout almamater saya diberi kesempatan dalam kompetisi di tingkat Kwartir daerah. Penantian yang sangat panjang, 10 tahun. Terakhir kali adalah saat generasi pertama yang beruntung merasakan aroma kompetisi tersebut.

Ada yang lebih menarik dari itu. Saat saya memutuskan untuk kembali ke tempat saya harus tidur. Saya benar merasa lapar dan memutuskan untuk singgah sejenak pada sebuah gelaran terpal warna oranye di pinggir jalan kota Ungaran. Karanggeneng tepatnya. Ya, sempat merasa bingung saat mencari tempat duduk. Gubuk kecil yang dilengkapi gerobak dan segala macam makanan itu berdiri di atas selokan yang lumayan lebar. Tapi bukan itu. Ada dua lelaki setengah baya sedang asyik bercakap sembari menunggu habisnya secangkir kopi. Dan saya melihat tidak ada penjual yang ada pada umumnya. Yang ada adalah anak kecil yang tinggi badannya sekitar sedada saya. Tiba -tiba bocah kecil itu menawari saya minum. Malam itu saya memutuskan untuk memesan coffeemix panas yang memang favorit saya. Saat itu pun saya masih tidak percaya jika penjual itu adalah anak kecil.

Ketika dua lelaki pelanggan itu beranjak dari tempat dan pulang. Nafsu makan saya hilang seketika. Nafsu makan itu beralih menjadi sebuah nafsu untuk mengobrol banyak pada bocah kecil tersebut. Sembari menikmati satu potong gorengan, saya bertanya pada dia. ‘Kelas berapa dek?’. ‘Kelas 4 mas’, jawabnya lugas. Saya lanjutkan pertanyaan saya layaknya wartawan yang sangat ingin tahu. ‘Jualan sendiri dek? Apa enggak belajar ?’. ‘Iya mas. Bapak narik. Belajarnya siang tadi mas’, jawabnya lagi. Saya masih benar tidak percaya jika bocah itu penjual kucingan di tempat itu saya duduk. ”Trus jualan sampek jam berapa dek?’. ‘Ya sampek malem mas. Sampek bapak sama ibu pulang’, jawabnya lugu.

Beberapa menit kemudian datang sepasang kekasih. Si cewek bertanya, ‘Dek, ada susu jahe?’. ‘Ada mbak’. ‘Loh, bapaknya kemana dek?’. ‘Bapak narik ojek mbak’. Sama seperti saya yang tidak percaya, si cewek itu bertanya lagi, ‘Bisa dek?’. Seperti meragukan. ‘Bisa mbak’, seloroh bocah kecil dengan nada sangat halus. Selagi sepasang kekasih itu menikmati susu jahe buatan adek penjual kucingan itu, banyak pertanyaan dan perasaan yang berkecambuk pada diri saya. Mungkin terlalu berlebihan. Mungkin saja saya yang katrok. Tapi ini saya baru pertama kali menemui penjual kucingan seumuran dia. Sembari senyum -senyum sendiri seperti orang gila ditemani kopi saya, saya mencoba mengabadikan anak kecil itu yang sedang duduk. Sayang seribu sayang, keterbatasan resolusi kamera handphone saya ditambah penerangan yang sangat sederhana. Ya, hanya dengan lampu kuno berbahan bakar minyak tanah. Kita biasa menyebut teplok.

Saya kagum benar dengan anak kecil ini. Dia mau bekerja seperti itu. Saya tak tahu persis bagaimana keadaan sosial keluarganya. Tetapi saya salut. Yang membuat saya lega, dia masih mengenyam pendidikan. Ya, itu sangat penting buat dia. Dengan wajah polosnya itu, dia layak ‘dipintarkan’.

Saya tidak menilai ini sebuah eksploitasi terhadap anak -anak. Tetapi entah benar atau tidak jika dilihat dari gerak tubuh anak tadi, dia nyaman dengan apa yang dia lakoni. Dan niat ketulusan membantu orang tuanya yang sangat sangat tanpa pamrih. Dan saat itu pula, saya merasa sangat kecil. Bahkan kecil dibanding ukuran tubuh dan umur bocah kecil itu. Dia mau bekerja keras dan bersyukur dengan apa yang dia lakoni. Sedangkan saya, merasa kurang dan manja dengan apa yang telah Tuhan titipkan pada orang tua saya. Sepantasnya saya malu.

Ya, dingin malam dan detik arloji sudah harus memaksa saya meninggalkan momen menarik saat itu. Pelajaran berharga. Sangat berharga. Dalam hati, saya hanya bisa berkata pada Tuhan. Semoga anak kecil itu mendapat kebahagiaan atas apa yang dia kerjakan.

Bukan sok sosialis. Inilah menariknya menjadi seorang single street fighter. Ketika berjalan sendirian untuk mendapatkan apa yang bisa membuat dia tersenyum. Dengan garis Tuhan, sengaja atau tidak, selalu menemukan hal menarik dan pelajaran yang sangat indah.

Selamat malam.

Posted with WordPress for BlackBerry.

 
Leave a comment

Posted by on February 20, 2012 in Perjalanan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: