RSS

Energi Indonesia Tak Akan (Pernah) Habis

14 Feb

Sudah lama rupanya saya vacum dari dunia tulis menulis via wordpress. Tetapi kali ini saya mencoba kedangkalan ilmu saya tentang energi yang tersedia di Negara saya. Bukan berarti ilmu tentang keenergian saya tinggi, cukup dangkal ilmu saya. Ini saja sekadar apa yang saya ketahui sebagai mahasiswa Teknik Energi ditambah beberapa referensi dari dunia maya yang mendukung.

Indonesia. Siapa yang tak tahu Indonesia di dunia ini. Sebuah negara dengan luas wilayah 1,904,569 km2 menjadikan negara dengan luasan terbesar ke-14 di dunia. Terletak di antara benua Asia dan Australia dan dua samudera, Pasifik dan Hindia. Memiliki 13.487 pulau. Seperti kembali ke masa Sekolah Dasar (SD) memang, tetapi itulah yang saya dapatkan dari portal resmi Nasional RI (www.indonesia.go.id). Menilik kestrategisan Indonesia secara geografis, membuat Indonesia sebagai pasar potensial dalam segala bidang. Belum lagi total penduduk Indonesia mencapai angka 237,641,326 yang menempatkan Indonesia sebagai negara berpenduduk terpadat ke-4 di dunia setelah Amerika Serikat. Ya, lagi -lagi saya hanya mengutip dari website resmi Badan Pusat Statistik Indonesia (www.bps.go.id). Tetapi saya tidak akan menambahkan lagi statistik -statistik tentang negara ini. Terlalu banyak statistik yang berbicara kepositifan, tetapi sangat amat banyak kenegatifannya. Saya akan mencoba menyinkronkan statistik tersebut dengan pola konsumsi energi bangsa ini, ketersediaan energi dan sedikit opini saya. Dan terkhususkan lagi saya ingin mengususkan pada energi listrik dimana ini merupakan salah satu ‘jantung’ kehidupan penduduk Indonesia yang telah memasuki masa komsumtif dan modernisasi.

”Berdasarkan laporan investigasi yang dirilis oleh Asian Development Bank (ADB) pada tahun 2010, kelistrikan di Indonesia digambarkan sebagai salah satu infrastruktur yang kondisinya sangat mengkhawatirkan dan perlu segera mendapatkan perhatian serius”

Masih menurut BPS, jika kapasitas terpasang oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) per tahun 2009 dari seluruh jenis pembangkitnya sebesar 25,609.60 MW. Jika saja kita hitung lagi berapa yang dapat dinikmati oleh tiap kepala hanya sekitar 105 Watt saja. Bayangkan, hanya untuk menyalakan perabot rumah apa saja itu. Dan apabila rata-rata pertumbuhan konsumsi listrik Indonesia bertahan pada angka 2,3-2,5% seperti pada saat ini, maka pada tahun 2030 nanti diperkirakan kebutuhan konsumsi listrik di Indonesia akan mencapai angka 20.000 TWh.

Terlalu ribet saya memikirkan angka -angka tersebut. Biar saja mereka -mereka yang dalam kapasitasnya untuk megurusi. Yang terpenting kita ketahui saat ini, jelas kita kekurangan akan energi listrik di Indonesia. Dan apa yang akan terjadi 5, 10, 20 atau bahkan 30 tahun mendatang. Belum lagi saat ini kita sangat tergantung pada PLTU. Pada 2010, produksi batubara kita berada pada angka 325.325.793 ton. Apakah cukup? Bukankah batu bara merupakan bahan tambang yang tidak dapat diperbarui? Lalu? Seperti yang telah dicanangkan PLN yaitu proyek 10.000 MW dengan prosentase pembangkit berbahan bakar selain batubara hanya sedikit. Asumsi saja jika 1 ton batubara mampu menghasilkan 2 KW energi listrik, maka dalam 365 hari pembangkit jenis ini membutuhkan 1.825.000.000 ton batubara. Bandingkan saja dengan angka ketersediaan batubara di Indonesia, jauh bahkan sangat jauh untuk menutup itu. Belum lagi jumlah batubara itu untuk proyek lain dan ekspor.

Jika kita mau melihat bagaimana rusaknya lingkungan akibat pertambangan batubara ini yang semakin hari semakin kronis, seharusnya kita tersentuh. Mereka membabat habis pohon -pohon yang lebat. Ya, pohon -pohon itu sebagai paru -paru kedua kehidupan manusia dan hewan di muka bumi ini. Tidak bisa dipungkiri juga pemakaian batubara ini sedikit banyak telah ikut andil mempengaruhi perubahan iklim di Indonesia terlebih. Emisi karbon dioksida (CO2) menurut greenpeace menyumbang peningkatan kenaikan suhu 2 derajat tiap tahunnya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia berada di posisi bawah berdasar survey elektrifikasi di ASEAN. Lebih peliknya lagi bahwa sampai kapan tanah ini akan terus dirusak dengan penggalian batubara yang telah kronis. Ya, memang pembangkit jenis ini masih menjadi yang ‘terbaik’ di Indonesia. Tetapi apakah alangkah baiknya lagi menemukan dan memanfaatkan pembangkit jenis lain sembari menunggu ‘habisnya’ batubara kita? Lihat, setiap provinsi di Indonesia atau bahkan setiap kabupaten memiliki aliran sungai yang deras dan melimpah. Betapa potensialnya bukan? Tetapi jika muncul pertanyaan teknis, apakah head dan debitnya memenuhi? Bagaimana jika musim kemarau? Menurut saya, terlalu banyak orang yang cerdas dalam bidang ini. Memang gampang berbicara mencetuskan gagasan ini. Head dan debit ini dapat saja dimanipulasi, misalkan saja dengan membentuk suatu dam yang nantinya dapat mendukung untuk memenuhi persyaratan teknis tersebut. Selain itu pemakaian energi listrik dari pembangkit berbahan bakar air ini dapat dikonsentrasikan per wilayah, misalnya saja dapat dikelola daerah hanya untuk memenuhi listrik daerahnya. Bayangkan saja jika setiap propinsi memiliki pembangkit sendiri kita tidak usah pusing memikirkan jaringan interkoneksi Jawa-Bali, atau penyulang yang teramat panjang untuk menyalurkan listrik ke setiap daerah. Muluk memang, tapi ini pemikiran praktis saja dengan melihat potensi energi di daerah.

Dengan tidak mengesampingkan kapabilitas PLN sebagai BUMN terbaik kedua di Indonesia. Tetapi hal ini juga bisa diterapkan sebenarnya oleh PLN sendiri, tentunya dengan kerjasama dengan pemerintah daerah. Dengan itu juga, prinsip otonomi daerah juga bisa berjalan. PLN tetap menyuplai kebutuhan listrik dengan PLTU dan PLT lainnya yang telah ada dan direncanakan sembari menunggu haisnya batubara di Negara ini. Seharusnya kita dan swadaya masyarakat sudah mulai bergerak tentang pertanyaan ‘Bagaimana kondisi listrik jauh ke depan?’. Banyak potensi sebenarnya ada pada setiap daerah, seperti air, panas bumi, angin, matahari atau bahkan petir. Beberapa sumber tersebut kita tak usah beli, sudah diberi Tuhan secara cuma -cuma. Bisa juga dengan geothermal dimana Indonesia sangat potensial sekali dengan sumber ini. Tetapi berkali -kali saya baca pasti terbentur oleh birokrasi dan monopoli busuk dari BUMN yang berhak mengelola. Terkadang tak habis pikir, mengapa mereka menghambat? Toh mereka (re : direksi) juga berasal dari Bangsa ini juga.

Terlalu pelik permasalahan untuk memecahkan krisis energi di Indonesia ini, mulai dari birokrasi pemerintah yang terlihat lamban dibanding mereka melobi investor asing dan mencitrakan pemerintahan mereka di mata dunia, korporat -korporat BUMN yang mempraktikan monopoli busuk untuk mendapatkan keuntungan yang besar, swasta -swasta yang kurang ajar hingga pengetahuan masyarakat sendiri yang dangkal akan potensi energi di Indonesia. Mau sampai kapan kita memakai Batubara? Mau sampai kapan kita melihat tanah itu berlubang hingga pulau demi pulau tenggelam? Mau sampai kapan korporat plat merah itu dirugikan oleh swasta pemasok batubara padahal yang digunakan untuk membeli batubara itu adalah uang rakyat?

Nuklir? Apakah kita masih mengharapkan nuklir yang didengungkan dunia sebagai pemasok energi listrik yang sangat potensial dan dapat menjawab krisis energi listrik yang mulai tampak? Sedangkan polemik dikalangan ahli masih bergejolak tentang pemakaian energi ini. Memang di Tembagapura sana kita menyimpan berjuta ton uranium. Tetapi lagi -lagi monopoli korporat asing bersama pemerintah. Saat ini masih menjadi perdebatan dimana persatuan Insinyur Indonesia tersinggung akan komentar Wamen -ESDM kala itu menanggapi potensi pembangunan PLTN di Indonesia. Memang benar, pembangkit jenis ini harus memiliki tingkat pengawasan yang sangat ekstra. Mulai dari teknis hingga kontrol. Sedangkan kita juga tidak bisa memungkiri bahwa tingkat displin SDM Indonesia masih kurang. Okelah, mereka para Insinyur merasa mampu dan sanggup. Tetapi apakah mereka mau mengoperasikan pembangkit ini selama 24 jam, 7 hari, 30 hari atau bahkan 365 hari dibandingkan lagi dengan jumlah ahli yang bersangkutan dengan disiplin ilmu yang menyelubungi sistem pembangkitan tersebut? Saya pribadi hanya bisa berpendapat dan tak ingin ikut terlalu dalam akan perdebatan ini, jika melihat konsumsi energi listrik kita yang seperti ini memang kita sangat membutuhkan suatu sistem power plant yang sangat besar seperti nuklir. Tetapi tidak untuk dalam waktu dekat ini. Sembari mematangkan konsep dan SDM yang benar -benar bisa dihandalkan. Di sisi lain, jika memang kita diharuskan memakai energi tersebut satu hal yang harus diperhatikan. Konservasi dan pemeliharaan lingkungan yang sangat maksimal. Karena kita tahu yang berada di dalam pembangkit itu adalah sebuah senyawa yang sangat mematikan untuk kehidupan ini.

Akhir -akhir ini banyak gerakan yang menggalakkan green technology sebagai upaya pemeliharaan lingkungan tanpa mengesampingkan kebutuhan energi yang kita butuhkan saat ini. Rasa -rasanya sangat tepat. Meskipun dengan skala kecil, setidaknya kita sudah bergerak sembari menunggu ‘batubara -batubara’ itu habis. Dan dapat dipastikan energi alami yang telah disediakan oleh Tuhan dengan cuma -cuma akan menjadi sumber energi primer beberapa tahun ke depan, khususnya dalam menyokong kelistrikan terutama di Indonesia. Pantai kita sangat luas, disana terdapat angin yang sangat potensial. Kita juga berada pada garis equator dengan iklim tropisnya, matahari pun pasti akan lebih berbangga hati jika ia difungsikan. Hampir setiap daerah memiliki aliran sungai yang sangat mendukung untuk dimanfaatkan. Dan masih banyak lagi, potensi alam yang ramah ini untuk dimaksimalkan.

Mari dengan optimisme, kecintaan kita pada lingkungan, bukan maksud menggurui kita sayangi dan lestarikan Indonesia kita.
Selamat Siang. Terima kasih.

 
2 Comments

Posted by on February 14, 2012 in Indonesia ?, Lingkungan, Uncategorized

 

2 responses to “Energi Indonesia Tak Akan (Pernah) Habis

  1. KOLOMKIRI

    February 14, 2012 at 12:02

    Indonesia penggalan sorga

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: