RSS

Cepu, Si ‘Kecil’ yang Berhasrat

13 Feb

Ini tulisan saya yang kesekian tentang kota kelahiran saya. Entah dasar apa saya selalu tersenyum ketika saya ingin membicarakan tentang kota ini. Hanya satu saja yang saya tahu, saya bangga. Ya, bangga terhadap tanah kelahiran saya, meskipun banyak orang yang tak tahu tentang kota saya.

Cepu, sebuah kota kecil berada diujung timur Propinsi Jawa Tengah. Masuk dalam daerah pemerintahan Kabupaten Blora saat ini. Cepu sendiri memiliki sejarah panjang dalam penamaannya. Entah benar atau tidak, kota ini menjadi salah satu basis kerajaan Mataram Islam dimulai dari kerajaan Demak saat itu. Dengan tokoh Dipati Jipang Panolan Arya Penangsang dan kudanya yang bernama Gagak Rimang. Menurut orang -orang lama, apakah itu serius atau tidak berasal dari kisah Arya Penangsang saat ia bertarung mempertahankan daerah kekuasaannya, Jipang Panolan dari serangan Pajang. Dan saat itu pula, Arya Penangsang gugur dengan keris yang menancap pada pahanya. Dari kisah itu jika dibahasa jawakan, mancep ing pupu atau disingkat Cepu. Ya, itu sekadar cerita guru SD saya.

Dewasa ini Cepu semakin mengudara di Indonesia dengan minyak-nya. Sebagai penduduk asli patut bangga terhadap prestasi ini. Dengan mendompleng proyek pengeboran minyak Blok Cepu, Cepu diakui dunia sebagai lokasi yang sangat potensial dalam dunia perminyakan. Proyek gabungan yang dikelola oleh anak Perusahaan PT. Pertamina (Persero) yaitu Pertamina EP Cepu dengan anak perusahaan ExxonMobil yang berbasis di Amerika yaitu Mobil Cepu Ltd. Tetapi saat ini kita harus mengakui kepada orang yang benar -benar awam atas nama tersebut. Ya, karena sejatinya bukanlah Cepu yang memiliki sumber minyak mentah dimana konon katanya dapat memproduksi 20.000 barel per hari. Lebih tepatnya lokasi tersebut berada di kawasan Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. Tetapi dengan kedekatan lokasi tersebut dan saat itu ada wacana untuk menempatkan lokasi pengolahannya di kota Cepu, maka proyek itu dinamakan Blok Cepu. Tetapi ironisnya saat ini, saya sendiri belum mengerti apa keuntungan yang kita dapat dari nama tersebut. Jika saja itu hasil karya, seharusnya kita dapat royalti akan pemakaian nama kota ini. Dan yang terbaru adalah Mobil Cepu Ltd. sebagai project man pun malah memindahkan kantornya ke daerah Bojonegoro. Entah apa penyebabnya. Tetapi tidak dapat dipungkiri, kota ini tidak bisa jauh dari yang namanya minyak. Disini ada PT. Pertamina EP Cepu sebagai mitra MCL itu sendiri. Dan perusahaan itu sudah berdiri jauh sebelumnya. Di sini juga berdiri sebuah Sekolah Tinggi -Akademi Minyak dan Gas Bumi (STEM – Akamigas) dan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Minyak dan Gas Bumi (Pusdiklat Migas) di bawah kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kemen-ESDM) RI. Dan instansi terakhir yang saya sebut tadi adalah satu -satunya lembaga sertifikasi produksi perminyakan di Indonesia. Disokong oleh putra daerah Cepu yang ahli dalam bidangnya turut andil dalam mengembangkan nama Cepu.

Dengan historis dan nama besar yang semakin mengudara kini setidaknya saya boleh berbangga sedikit. Ya hanya sedikit. Ketika beberapa orang bertanya darimana saya berasal dan saya jawab Cepu, mereka tahu dan pasti berkata itu kota minyak. Tetapi saat mereka bertanya dimana lokasinya, saya harus menjelaskan panjang lebar beberapa alinea atau saya harus menjelaskan dengan google map. Haha sedikit intermezo saja saya kira.

Tetapi ketika kita menginjakkan kaki di kota ini, pasti kita bakal mengeluh tentang panasnya kota ini, parahnya infrastruktur kota. Ya, setidaknya itu yang terlintas apalagi jika baru pertama kali. Analisis saya, mengapa kota ini begitu panasnya? Ya bisa ikut andil adalah di sekitar kota Cepu merupakan tanah yang memang cocok untuk pertambangan. Denga kontur tanah keras dan kering. Tetapi terkhusus di kota Cepu sendiri saya pikir penghijauan kota ini sangat buruk. Entah apa yang terlintas di benak orang -orang terhormat disana saat mereka memutuskan untuk menebang banyak pohon yang berjajar di sepanjang kota. Alasan umur pohon yang sudah tua? Oke bisa kita terima itu antisipasi robohnya pohon karena cuaca. Tetapi dalam faktanya? Di daerah Lapangan Serbaguna Tuk Buntung, pohon itu ditebang hanya karena ingin membangun lapangan serbaguna itu sendiri yang sampai saat ini TIDAK JELAS apa fungsi lapangan tersebut. Ya, tidak ada kegiatan yang saya rasa berguna. Apalagi dengan penerangan yang sangat minim, bahkan tidak ada. Saya rasa tidak berbeda jauh dengan sawah pada malam hari. Tiang lampu ada memang, tetapi sama sekali tidak ada penerangan disitu. Saat siang lokasi tersebut sangat terik dan saat malam lokasi gelap. Saat malam pun kehidupan disitu hanya terdapat pemuda -pemuda yang tak jelas apa kegiatannya atau bahkan sepasang pemuda -pemudi yang bercumbu mesra. Apakah itu tujuannya? Menyediakan lokasi tempat untuk (maaf) berzina. Mengapa tak diganti saja namanya denga Lapangan Serbagelap Tuk Bunting. Toh, jika disingkat juga sama saja LSTB. Beda tipis Lapangan Serbaguna Tuk Buntung | Lapangan Serbagelap Tuk Bunting.

Lagi -lagi keefektifan dipertanyakan. Dengan lokasi sepanjang itu, tidak ada aktivitas yang sangat efektif. Dan saya tahu ‘harga’ lokasi itu sangat mahal. Saya sangat menyayangkan.

Saya juga ingin mempertanyakan keefektifan lokasi bernama Taman Seribu Lampu. Pada awalnya diresmikan, entah tahun berapa saya lupa, ramai sekali memang. Beratus pedagang dan pembeli, banyak juga hiburan yang ada. Tetapi sekarang? Mana lampu yang berjumlah seribu itu? Lihat lokasi sepanjang tugu kuda hingga simpang pitu! Gelap. Yang ada penerangan seadanya dari pedangan kopi kothok yang sangat khas itu. Ya, disana gelap dan sangat tidak enak dipandang mata. Puluhan tenda berdiri terlihat sangat kumuh terbuat dari bambu, berdindingkan kain bekas spanduk dengan diramaikan pedagang ber-rok mini yang seakan bebas menjajakan dagangannya disana. Dimana pola keteraturan pemerintahan kota ini?

Atas dasar apa para terhormat disana membangun lokasi tersebut? Apakah kursi -kursi disana tidak ada satupun orang yang mampu memberikan masukan akan estetika tata kota? Satu hal lagi yang ingin saya tunjukkan dan ini fakta. Sepanjang daerah taman seribu lampu tersebut, dengan disampingnya ada dua jalan masing -masing satu arah. Lebar jalan tersebut sangat tidak layak dibanding dengan fungsi taman itu sendiri. Jika para yang terhormat di sana menyadari. Jalan tersebut adalah salah satu akses bus, truck dan kendaraan lain. Notabene truck dilarang masuk jalan pemuda. Ini sangat sempit. Belum lagi jika harus dipaksa menutup salah satu ruas jalan jika ada sebuah hajatan. Ya, ini terbentang dari ujung tugu kuda hingga jalan depan KUA. Jika saja pandangan itu seluas gurun Sahara di Afrika sana, kita ini berada di tengah lokasi eksplorasi pertambangan. Sangat potensial sekali truck tronton dengan kontainer berjibun melewati jalan tersebut. Dan ketika melewati daera depan KUA, apakah anda menyadari bahwa truck berekor panjang sangat sulit untuk lewat. Inilah mengapa saya tidak habis pikir dengan yang terhormat disana. Tata kota yang sangat sembarangan.

Hal ini belum lagi diperparah oleh keadaan jalan yang sangat hancur seperti pemikiran yang terhormat disana. Ya, jalan sepanjang depan KUA hingga SPBU sana. Entah saya lupa nama jalan itu persisnya. Bedanya jalan raya dengan kubangan kerbau apa? Bukannya itu akses teramai kota ini. Letak terminal, satu -satunya SPBU di kota ini dan Pasar Induk Kota Cepu harus melewati jalan tersebut. Entah sudah berapa korban yang ditelan jalan parah tersebut. Meskipun tidak rusak, selama melewati jalan sepanjang itu pun akan merasa tidak nyaman. Hitunglah lebar jalan tersebut! Hanya cukup untuk 2 minibus yang berjajar. Sedangkan armada yang melewati jalan tersebut adalah bus dengan ukuran jumbo, truck ukuran sedang, truck jumbo bahkan truck gandeng. Lalu mana rasa kemanusiaan kita untuk mereka pengendara sepeda onthel? Bahu jalan yang sangat amat masih lebar itu mau dibuat apa? Terlebih saat siang atau bahkan masih pagi buta debu yang sangat menggangu pernapasan sudah berterbangan. Penghijauan yang sangat buruk. Hampir tak ada pohon yang berdiri disana. Pemerintah hanya menanam ‘pohon cabai’ yang entah sekarang hidup atau tidak.

Ironis sangat ironis memang. Cepu yang sangat potensial ini harus hancur sarana dan prasarananya oleh mereka yang tidak memiliki hati tulus untuk membangun bagian dari wilayah mereka. Ini terlebih untuk mereka yang duduk di kursi empuk dan berasal dari kota Cepu sendiri. Dan tidak bisa dipungkiri mengapa saat ini terdengar sangat gencar gerakan kemauan warga Cepu untuk menjadikan Kotanya sebagai kota administratif dan lepas dari Blora.

Saya sebagai pemuda asli Cepu sangat menyayangkan fakta -fakta diatas. Dengan itu hilang nama besar kota Cepu, hilang keindahan historis kota Cepu, dan hancur di tangan orang yang tidak tahu rasa cinta akan tanah kelahirannya. Tulisan ini tidak berbau politis apapun, ini hanya bagian dari citizen journalism (jurnalisme warga). Mengenalkan, menggambarkan dan menganalisa apa yang ada di kota saya. Saya juga bukan mahasiswa jurusan Pemerintahan, bukan juga mahasiswa jurusan Komunikasi, dan saya bukan mahasiswa jurusan Tata Kelola dan Perencanaan Kota. Saya disini berbicara sebagai pemuda Cepu.

Suatu ketika saya sedang menunggu jadwal kereta api yang terlambat, ada seorang pria berasal dari Jakarta yang berkunjung ke Cepu di suatu proyek eksplorasi minyak. Dia sangat mengeluh dengan kondisi kota ini. Jalan dan panasnya kota ini, dan tidak ada tempat nongkrong untuk sekadar melepas lelah. Disitu saya merasa malu sebagai warga asli Cepu. Tetapi apa daya, Cepu yang menyumbang pendapatan daerah terbesar seperti di anak tirikan. Parah memang.

Jika memang Cepu nantinya akan dijadikan sebagai kota administratif sendiri, saya sebagai pemuda Cepu sangat setuju. Mengapa? Biar kita mengurus diri kita sendiri. Kita yakin dengan tidak seluas kabupaten Blora itu akan lebih efektif. Sekali lagi, Cepu punya potensi sangat besar.

Apa kita tidak ingin sekitar Tugu entah apa itu namanya, ada citywalk dengan trotoar yang lebar tata lampu yang minimalis ditambah dengan lebarnya jalan yang nyaman? Konsep yang disajikan tugu tersebut sudah menarik, hampir sama dengan tugu 0 km di Jogjakarta. Tetapi tatanan untuk menikmati itu kurang pas. Jika saja trotoar dari segala penjuru dilebarkan dan direndahkan serta memaksimalkan lebar bahu jalan yang tersisa, itu akan lebih memberikan tempat yang indah untuk para pengunjung kota ini. Menurut saya, taman seribu lampu dihilangkan saja, lebarkan jalan yang ada. Mematikan ekonomi warga? Tidak sedangkal itu pemikiran kita, bahu jalan di depan RSU masih sangat lebar. Kenapa tidak dibangun trotoar yang lebar dengan menempatkan pedagang disitu sekaligus menjadikan food court yang tertata. Dengan bangunan yang disediakan secara permanen, itu tidak akan menampilkan kesan kumuh dan acak -acakan. Dikemanakan taman seribu lampu? Hancurkan saja! Lebarkan jalan dan beri pembatas yang secukupnya. Itu akan lebih memberi kenyamanan kepada pengendara. Pembatas dua lajur bisa juga ditanami penghijauan yang benar -benar bisa jadi penyerap CO2. Taman seribu lampu yang berada di antara tugu kuda dan bundaran simpang tujuh lebih baik ditiadakan. Karena tidak jelas fungsinya. Lebih baik melebarkan ruas jalan dan trotoar. Itu bisa digabungkan dengan apa yang saya sampaikan di atas. Sepanjang kantor Kecamatan hingga simpang tujuh bisa dijadikan sebuah citywalk dimana memberikan ruang yang bebas untuk pejalan kaki dan tempat sekadar nongkrong pengunjung untuk menikmati keindahan dan historis kota ini. Perlu dicatat bahwa di sekitar daerah itu terdapat banyak lokasi yang memiliki nilai historis tinggi. Tugu kuda dimana kuda itu adalah refleksi kuda yang ditunggangi Arya Penangsang, ada komplek Gedung Soos Sasono Suko yang tetap mempertahankan bentuk aslinya sebagai bangunan Kolonial Belanda, Kantor Kecamatan sendiri dengan joglo yang khas, Patung GBH Djatikusumo yang sangat gagah, bangunan Pegadaian yang kuno, begitu juga bangunan kantor Pos, selain itu ada tugu yang saya tahu adalah tugu kebangkitan nasional, disamping itu ada replika lokomotif kereta api di depan kantor dinas pekerjaan umum.

Dan yang memprihatinkan adalah kondisi jalan menuju terminal Cepu. Sangat perlu ada perbaikan secepatnya. Disana roda perekonomian mayoritas berputar. Dan jangan sampai ada korban yang jatuh dengan ketidakpedulian pemerintah kabupaten.

Terlalu besar dan muluk memang mimpi saya untuk membangun kota kelahiran saya. Tetapi inilah yang Tan Malaka katakan. Pemuda yang bisa mengubah semua. Tetapi tak semua pemuda peduli atau bahkan cinta dengan tanah kelahirannya. Seakan mereka pesimis dengan realita politik dan kasus yang ada. Ya, itulah setidaknya beberapa komentar pesimis setiap kali dalam akun jejaring sosial saya ketika saya sedikit iseng untuk menulis bagaimana jika Cepu menjadi Kota Madya sendiri. Untuk saya pribadi, bukan saya tergila akan politik, bukan saya berambisi. Saya hanya bagian dari jurnalisme warga sekaligus pemuda yang cinta dan peduli akan tanah kelahiran saya. Ini hanya konsep minimalis saya sebagai pemimpi yang optimis.

Bukan ambisi, bukan provokatif, sekadar mimpi yang optimis dan kritis
Terima Kasih

 
10 Comments

Posted by on February 13, 2012 in Indonesia ?, Kota, Opini, Uncategorized

 

10 responses to “Cepu, Si ‘Kecil’ yang Berhasrat

  1. Sandhi Ading Wasana

    February 13, 2012 at 12:09

    hanya mengoreksi saja mas, Arya Penangsang itu ada Pada saat zaman Kerajaan Demak, karena Arya Penangsang itu Islam, dan Kerajaan Majapahit itu kerajaan Hindu, dan berdiri lebih dulu sebelum kerajaan Demak berdiri.

     
  2. Sandhi Ading Wasana

    February 13, 2012 at 12:11

    btw, nice post gan,. 70% setuju dengan pendapat agan.

     
  3. diazhamidfajarullah

    February 14, 2012 at 02:39

    Terima kasih koreksinya

     
  4. KOLOMKIRI

    February 14, 2012 at 03:18

    sya sangat setuju mas hamid, bahwa optimisme yg tinggi di sertai tindakan yg real ,,,,mudah-mudahan apa yg di impikan mas hamid tentang kota cepu yg sangat layak sekali untuk menjadi kota madya terwujud….biarkan mereka pesimis,,,,toh tidak ada salahnya kita selalu berada digaris optimisme yg tinggi,,,,,lebih baik mencoba dari pada tidak sama sekali,,,,!!!!

     
  5. fajar p

    February 18, 2012 at 00:55

    cepu tidak mungkin berubah menjadi kota administratif,karena uu no.32/2004 ttg sistem pemerintahan daerah tidak mengenal adanya kota administratif/kota administratif sudah dihapus…

     
    • diazhamidfajarullah

      August 27, 2012 at 08:57

      Nuwun sewu. Setahu saya UU No. 32 Tahun 2004 itu menjelaskan tentang Pemerintahan Daerah. Pada Pasal 8 dijelaskan tentang Tata cara pembentukan, penghapusan, dan penggabungan daerah diatur oleh Peraturan Pemerintah. Dengan Peraturan Pemerintah (PP) No. 78 Tahun 2007 sebagai pengganti Peraturan Pemerintah (PP) No. 129 Tahun 2000. Pada PP tersebut dijelaskan secara detail Tata cara pembentukan, penghapusan, dan penggabungan daerah.
      Mohon koreksinya, untuk Cepu yang lebih baik.

       
  6. Suhadi ngrejeng

    March 13, 2012 at 09:45

    Untuk menata kota cepu kayaknya sulit jika masih dalam cengkraman blora dan solusi terbaik hanya menjadikan cepu sbg kotamadya karena sistem pemerintahan ada pd kota cepu sendiri. Selama ini blora bukan mengenyampingkan cepu tetapi yg di tangani blora cukup luas. Cepu harus lepas dari blora untuk menjadi sebuah KotaMadya tapi maaf jangan mencaplok wilayah bojonegoro bagian barat sperti padangan, purwosari, kasiman yg di wacanakan pd era soeharto dulu nanti tambah THE RUNMIT (runyam & rumit).

     
    • diazhamidfajarullah

      August 27, 2012 at 09:03

      Sebetulnya membentuk satu kota administratif baru pun tidak mudah. Selagi masyarakat Cepu sudah sepaham tentang niat tersebut pasti ada jalan. Jika saja rencana ini terealisasi, dalam PP No. 78 tahun 2007 untuk pembentukan Kota administratif harus memetakan minimal 4 wilayah Kecamatan. Hal ini pun tergantung aspirasi masyarakat juga. Jika terealisasi wilayah mana yang ingin bergabung mungkin ditampung

       
  7. Jholhodhonho

    August 26, 2012 at 18:05

    Setidaknya cepu punya pemimpin sendiri, tetapi bukan camat karena masih dikendalikan dari pemkab/pemkot…… yaa cepu harus punya pemimpin sendiri seperti yg di gagas penulis utk keluar dr blora. Paling tidak pemimpin itu adalah walikota, artinya cepu harus berjuang utk menjadi sebuah kotaMadya…….dgn status tsb nantinya cepu bisa mengurus rumah tangga sendiri dan tdk harus ngandalkan uluran dr blora. saya yakin pemkab blora tdk diam memikirkan cepu tetapi anggaran yg ada tdk harus terkonsentrasi ke satu wilayah(cepu) karena blora itu luas sehingga perlu pemerataan. Jadi kayaknya cepu akan sulit maju kalo program2/kebijakan hanya bertumpu pd blora…….alangkah bangganya cepu menjadi sebuah KOTAMADYA.

     
    • diazhamidfajarullah

      August 27, 2012 at 09:13

      Mungkin begitu harapan kita. Tetapi harus ada aspirasi masyarakat Cepu yang benar-benar bulat untuk itu karena rencana itupun harus mendapat persertujuan dari Bupati dan DPRD Blora.

      Sedikit penyegaran saja, PAD Blora tahun 2011 yang melampaui target, terbanyak disumbang oleh Perawatan Orang Sakit dengan rincian BLUD rumah sakit Dr R Soeprapto Cepu telah memberikan kontribusi PAD sebesar Rp 4,3 miliar, sedangkan rumah sakit Dr R Soetijono Blora Rp 748 juta. Ini bukan berarti bahwa tingkat kesehatan masyarakat Cepu rendah, mungkin lebih dalam pelayanan yang semakin membaik sehingga mendapat kepercayaan yang lebih dari masyarakat.

      Dari sektor lain pajak penerangan jalan PLN Blora Rp 1,16 miliar dan PLN Cepu Rp 1,03 miliar. Bisa dibandingkan saja, pajak penerangan Ibukota kabupaten dengan kecamatan Cepu. Belum ditambah Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, pendapatan terbanyak untuk sementara disetorkan oleh PT Blora Patra Gas sebesar Rp 1,17 miliar. PT. Blora Patra Gas yang kita tahu paling banyak ikut dalam mengelola Blok Cepu. Meskipun kita hanya mendompleng nama saja, setidaknya dari penyegaran tentang PAD tersebut bisa menjelaskan bahwa Cepu seharusnya dapat bersaing.

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: