RSS

Kotaku bukan Kotaku

03 Jan

Seorang mahasiswa (katanya) tingkat 2 (dua) di salah satu politeknik negeri di kota Semarang yang katanya juga sedang menempuh pendidikan kedinasan. Ya, seperti itulah orang -orang berkata.

Buat saya ini adalah syetan yang benar -benar membelenggu saya sejak pertama kali saya diharuskan mengikuti sistem busuk ini. Semarang bukanlah kota yang buruk, bukanlah kota yang keras dibanding ibukota negara itu, bukan seperti Surabaya dengan orang -orang yang mayoritas seperti karang yang ampun kerasnya. Tapi benar hati ini yang berbicara.

Sejak tahun lalu, mungkin berawal dari ujian saringan masuk perguruan tinggi di kota ini yang gagal saya lalui. Saya tidak akan pernah mengambil kambing hitam atas kegagalan saya itu. Memang saya terlalu bodoh saja. Tetapi dari kebodohan saya inilah saya paham, kota ini benar tidak pas dengan hidup saya. Ketika esok hari saya harus bergulat dengan ribuan saingan dan ratusan kata yang dirangkai menjadi sebuah bendel soal yang menentukan. Malam sebelumnya itupun saya memutuskan untuk menghabiskan gemerlap malam kota ini. Kota yang penuh dengan sejarah, kota yang meriah dengan berjuta penduduk dan hiburannya. Dan, baaaam! Suatu hari saat itu saya gagal masuk. Bodohnya saya, secetek inikah ilmu saya, sedangkal inikah iman saya yang tak tahan dengan godaan gemerlap kota ini.

Ikrar pun saya ucapkan untuk sebuah kebohongan diri saya sendiri. Saya tak ingin dan tak akan menghabiskan waktu saya lebih lama lagi di kota ini. Ya, ini hanya kemunafikan sesaat saya saja. Ini ekspetasi mereka orang tua saya yang memaksa saya bermuka dan berhati dua.

Terkadang saya merasa kehangatan dari mereka rekan seperjuangan, terkadang saya tersenyum dengan kekonyolan kota ini, terkadang saya terpengangah dengan keindahan kota ini bahkan terkadang saya hanyut dalam keramaian dan kedamaian kota ini. Ya, itu semua berlangsung hanya sepersekian juta detik terhadap waktu yang hati dan kehidupan saya. Belum dan tidak bisa mendapatkan apa yang hati saya idamkan.

Kehomogenan tujuan, sistem liberal yang benar mengganggu saya sampai saat ini. Bukan keanekaragaman destinasi, bukan jiwa adventure yang benar -benar melawan kerasnya dunia, bukan interaksi yang maksimal terhadap semua lapisan penduduk bumi ini. Saya dan mereka hanya duduk, memperhatikan, mendengarkan iming -iming kebahagiaan materi. Siapa yang tahu apa yang saya ingini 5 tahun kedepan? 10 tahun kedepan? Saya! Tetapi sistem ini membuat saya gila. Entah mereka ingin mengabdi kepada siapa setelah mereka mendapat sebuah lembar kerta ijazah, negarakah? Masyarakatkah? Atau diri sendiri? Ironis memang, dari apa yang saya dengar mereka dengan bangga membuat berbagai mission possible untuk mereka sendiri. ‘Setelah aku lulus, aku bakal beli DSLR, aku bakal beli itu honda city’. Apa bedanya dengan pecundang?

Salah satu juga mereka benar ingin mendedikasikan diri untuk orang tuanya. Baguslah itu. Tetapi jika masih dibarengi dengan apa yang tersebut di atas, apa arti anda!

Inilah salah satu kehomogenan yang benar saya rasakan. Aroma persaingan memang sangat penting dan dibutuhkan. Tetapi bukan seperti ini caranya. Bukan saya gugur sebelum perang. Saya akan maju apa yang menjadi resiko buat saya.

Hampir setiap malam, saya hanya duduk di depan teras rumah, ditemani secangkir kopi dengan alunan musik berharap kejenuhan terhadap kota ini setidaknya luntur. Mungkin ini salah satu cara saya mengungkapkan emosi saya terhadap keadaan saat ini selain bercerita kemunafikan dan kebodohan saya kepada mereka yang mau mendengarkan cerita saya. Sama sekali tidak peduli mau dikata saya cengeng. Karena saya tidak akan pernah menutupi sebuah kebusukan saya sekalipun.

Nasi sudah menjadi sushi, itulah yang dikatakan mantan calon CEO saya, Dahlan Iskan dalam beberapa CEO Notesnya. Saya tidak ingin kesedihan atas ketidak mampuan saya dengan kota ini membuat orang tua dan adik saya menangis. Meskipun dalam beberapa kesempatan saya sering mengeluh kepada mereka tentang apa yang saya rasakan. Biarkan setelah 5 (lima) tahun nanti jika saya diangkat menjadi seorang pegawai yang harus tunduk pada sistem ini mereka tersenyum. Boleh bapak, ibu dan adik saya berbangga. Dan seketika kebahagiaan saya juga akan muncul, tetapi hanya sementara saja. Setelah itu? Biarkan saya saja yang menetukan kebahagiaan saya dan keluarga sendiri! Saya benar ingin menemukan jiwa saya, aliran darah adventure membelah kerasnya gundukan gunung sekalipun, berinteraksi dengan seluruh lapisan atau bahkan saya harus berbicara langsung kepada sebuah serangga sekalipun. Dan yang pasti meninggalkan kota ini dan menjadikannya destinasi sekejap untuk berinteraksi dengan lapisan dunia!

Selamat Malam!

 
Leave a comment

Posted by on January 3, 2012 in Curhat, Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: