RSS

One Youth, One Dream and One Changes for Better Nation One

28 Oct

Writers haven’t joining at youth forum, but feel how dominant youth progresive this era.

Bukan karena kebetulan bertepatan dengan sumpah pemuda yang pas jatuh hari ini, tapi tulisan ini sudah tersimpan di draft hp ini dari sebulan yang lalu.

Bukan melulu bebicara politik busuk negara ini dan tidak juga cinta seperti sinetron -sinetron yang yang terputar di layar kaca anda semua. Memang dua sisi itu sebenarnya berkaitan, kita setiap hari bahkan setiap menit selalu dicekokin dengan hal berbau politik bak sinetron yang berepisode ribuan episode.

Kita sebagai pemuda yang hidup di negara sebesar ini memiliki berjuta cara pandang yabg berbeda untuk itu. Tetapi masih ada yang lebih penting dari menyimak permasalahan itu. Mempelajari, menganalisa dan memikirkan ‘what must we do tomorrow!’

Hari ini Jumat, 28 Oktober 2011, merupakan momentum bagi para pemuda kita atas sebuah pergerakan 83 tahun silam untuk tidak hanya mengenang dan memperingati saja tetapi melanjutkan progress sebuah perubahan vital yang kaum -kaum muda dahulu jalankan. Dari pemuda inilah ‘Indonesia’ ini pertama diteriakan dibawah belenggu bangsa penjajah. Rudolf Wage Supratman dengan dengan gesekan biolanya meskipun tanpa syair ini menjadikan momentum saat itu sebuah alur cerita yang manis. Perlu dicatat juga, Sumpah Pemuda merupakan momentum berdirinya sebuah negara kesatuan, dengan kesatuan tanah air, kesatuan bangsa dan kesatuan bahasa yaitu Indonesia. Istilah Indonesia, tanah air Indonesia dan bahasa Indonesia secara formal di kumandangkan dalam momen yang bersejarah ini. Tetapi terlalu panjang cerita ini jika mengulas semua alur cerita yang diprakarsai oleh sejumlah pemuda Indonesia untuk melakukan perubahan yang signifikan.

Mungkin beliau -beliau saat itu pun tidak pernah sedikit pun berpikir untuk mengharapkan semua ini tercatat rapi dalam dengan tinta emas dalam sejarah panjang negeri ini. Mereka mununjukkan kejernihan, kritis dan patriotis dalam tekanan yang sebegitu hebatnya yang jika saat itu kita para pemuda pada era saat ini berada pada momentum itu mungkin akan lebih bersikap pesimis. Satu tujuan mereka, pemuda -pemuda itu tidak ingin menjadi kaum inlander, kaum yang terpinggirkan. Dan catatan yang lebih membanggakan adalah mereka berkumpul dan meneriakkan beberapa kalimat yang sampai saat ini masih dijadikan patokan para pemuda sekarang yaitu mereka meminggirkan ego, ras, suku dan bahasa mereka demi generasi mereka. Bukan hanya untuk pemuda saja sebenarnya apa yang mereka lakukan, tetapi demi bangsa ini.

M. Yamin mempunyai beberapa catatan yang menyimpulkan mengapa saat itu pemuda memiliki harapan dan semangat untuk merubah nasib bangsa ini. Bukan hanya karena imperialisme Belanda saja yang menjadi faktor kunci, tetapi kemauan mereka menempati posisi kedua dengan poin yang bisa dikatakan selisih 0,001 saja.

Ini bukan pelajaran IPS yang tertulis saat membahas tentang perjuangan masa silam oleh bangsa Indonesia. Jika kita membicarakan masa lalu sudah pasti kita akan membandingkan dengan masa sekarang.

Tanyakan pada diri anda masing -masing ‘What changes can you make for now and tomorrow?’ Bukan untuk pribadi anda masing -masing perubahan itu pastinya. Dan jangan anda katakan ‘belum saatnya kita berpikir itu’ atau ‘percuma saja’ atau mungkin nada pesimistis ‘biarin bapak -bapak disana’ yang ujung -ujungnya berakhir demo yang berisi sumpah serapah dan tuntutan.

Seorang Kofi Anan, mantan sekjen PBB yang sangat mendukung pemuda -pemuda di dunia dalam sambutannya pada konferensi pemuda dunia ‘One Young World’ berkata, ‘If world leader can’t lead the world so well now. You, youth mut to make THEY LOOK, LISTEN and FOLLOW you!’ Lihatlah betapa optimisnya beliau dengan pemuda dunia saat ini, dan pemuda Indonesia adalah salah satu dari yang beliau maksud.

Kembali ke sejarah pemuda Indonesia waktu itu, sekarang tidak lah dahulu. Kondisi pemuda Indonesia saat ini sangatlah miris jika dirasakan, termasuk penulis sendiri. Terlalu banyak kepentingan pribadi dan politik yang mendominasi jiwa -jiwa bangsa ini. Tidak salah setiap manusia untuk mencari kesejahteraan karena itulah hakikat kita hidup di dunia. Di balik itu ada yang lebih penting jika hidup disini satu rumpun, satu tujuan dan satu nasib.

Menilik pada beberapa isu yang hangat di dunia saat ini dalam check list penulis, semuanya tertulis dengan tinta merah. Mengapa? Inilah isu yang saat ini masih menjadi perhatian dan polemik di negara ini.

Indonesia sangat kaya dengan budaya. Itu memunculkan banyak suku, ras, dan pemikiran yang berbeda. Salah sebenarnya jika berbicara seperti itu karena sejatinya yang memunculkan Indonesia itu adalah perbedaan tersebut. Namun saat ini, beberapa suku dan budaya itu sedang bergejolak. Lihat saja di Papua ! Pulau terbesar kedua secara geografis dan wilayah yang kaya akan sumber daya alam terletak di ujung negara ini dimana jauh dari hiruk pikuk keramaian Ibukota. Susah payah mendapatkan pulau sekaligus masyarakatnya saat itu. Saat ini mereka menuntut untuk memerdekakan diri karena kesenjangan pemerintah terhadap monopoli kehidupan mereka. Investasi luar yang jor -joran atas kekayaan alam dan intelektual mereka tidak sebanding dengan kesejahteraan mereka. Bukan menutup diri dengan dunia luar, ini juga sebuah ekspestasi besar negara di mata dunia. Tetapi ada yang salah dengan ini. Papua bagaikan boneka saja, diambil dan dikeruk oleh liberal -liberal yang menguntungkan negara investor.

Bukan menyalahkan pemerintah, tidak menyalahkan Presiden dan menterinya, atau DPR yang wakil rakyat gadungan sok peduli padahal ingin memperkaya diri, tapi SISTEM mereka yang salah. Mereka terlalu royal terhadap investor luar, kita punya potensi. Seakan -akan pemerintah meragukan kualitas kemampuan warga kita. Dengan seperti itu, mereka juga meragukan kapabilitas pemuda saat ini bahkan jika mereka bercermin, mereka juga meragukan dirinya sendiri.

Ini lah yang harus dibenahi dari pemuda saat ini, kemampuan leadership pemuda Indonesia harus ditingkatkan dan diasah. Tidak salah suku -suku disana menuntut kesejahteraan. Tetapi tidak dengan anarkisme primitif. Inilah peluang pemuda sebagai pribadi dan kelompok yang terdidik saat ini. Janganlah mudah terprovokasi. Kepedulian terhadap negara ini tidak seperti itu caranya. Mencintai negara dan bangsa dimana kita sekarang berdiri ini lebih penting daripada kita mencintai diri kita sendiri dan wanita -wanita yang pada akhirnya semua itu akan mati.

Politik sudah memakan korban banyak, termasuk pada akhirnya membunuh kesejahteraan ini. Sangat ingin penulis MENGHAPUS POLITIK di Indonesia ini. Tetapi itu tidak akan mungkin bisa, semua sudah mendarah daging sejak kita dilahirkan. Okelah jika politik itu sangat berpihak untuk bangsa ini, tapi jika demi pribadi dan kelompok ? Mending mati saja! Kepuasan masyarakat itu hanya sementara saja.

Korupsi yang merajalela sangat tidak bisa diampuni. Jangan biarkan penyakit itu menular pada diri kita pemuda -pemuda Indonesia.

Dari beberapa alinea di atas, terdapat beberapa aspek yang harusnya pemuda saat ini benahi dan kembangkan pada dirinya, antara lain leadership yang melahirkan suatu sistem kebangsaan, tidak menjadi pemuda yang mudah terprovokasi dengan anarkisme yang mengandalkan otot saja karena disini kita dibekali akal dan pikiran serta menjunjung tinggi ‘Bhinneka Tunggal Ika’ kehidupan anyar suku, ras dan agama.

Jujur saja karena saat ini moral pribadi maupun kebangsaan pemuda saat ini sangat jauh di bawah batas normal. Memang tingkat pendidikan sedikit banyak sangat mempengaruhi pola hidup pemuda saat ini. Jika berbicara dosa, serahkan saja pada Tuhan. Tetapi jika berbicara etika, kepedulian serta jiwa kebangsaan kita inilah yang harus kita gali lebih dalam.

Pada momentum Sumpah Pemuda inilah saatnya pemuda juga menunjukkan kepada mereka yang duduk di kursi empuk bahwa kita juga berpengaruh pada kehidupan ini. Siapa yang akan meneruskan kepemimpinan mereka kalau tidak kita. Sisihkan segala kepentingan pribadi, kita lebih merasa berharga dan berguna jika kita sudah memberikan suatu kontribusi kita terhadap bangsa ini meskipun itu sangat kecil dan murah harganya.

Terlalu muluk juga jika pemuda berobsesi untuk memimpin negara ini, tetapi itu bukan hal mustahil memang. Pemuda saat ini lebih fokus untuk memunculkan jiwa untuk lebih Indonesia, menurut penulis. Bagaimana jiwa cinta, patriotisme ini lebih berkembang atau bahkan mendominasi kehidupan kita.

Kemauan dan kegigihan lah yang bisa mewujudkan itu semua seperti M. Yasin katakan. Seperti apa yang penulis lakukan, mungkin dari berapa juta pemuda di Indonesia bahkan triliunan pemuda dunia lakukan. Memasok berjuta mimpi dalam otak ini dengan berjuta gagasan, ide dan planning untuk melakukan perubahan untuk diri sendiri terlebih untuk bangsa ini. Tidak harus semua aspek kehidupan harus menjadi sebuah gagasan, apa yang menjadi kelebihan pada intelektual dan diri pemuda itulah yang dikembangkan. Dengan kegigihan itu, wujudkan impian yang telah mengkontaminasi otak kita. Dan seorang hakim mahkamah konstitusi Indonesia dalam suatu diskusi berkata, ‘Generasi tua selalu menceritakan tentang masa lalu, tetapi pemuda selalu bermimpi dan berpikir “what must I do for tomorrow?”. Memang berbanding terbalik, tetapi di balik itu sebenarnya harus ada sinkronisasi dalam realisasi pemikirannya. Apa yang akan dilakukan pemuda hari ini dan ke depan harus tetap berkaca pada filosofi yang diberikan oleh generasi tua dengan harapan akan menjadi lebih baik’.

All progrss throughout the world made by unreasonable youth. Not us must to follow where world turning, but we must to persist in adapting the world to follow us. It rise from dream dreams. Let’s us make to burn weakness histories !

Pemuda -pemuda Indonesia merupakan salah satu pemuda -pemuda terbaik di dunia dan mulai diperhitungkan. Sebelum menuju dunia global, mari kita sebagai pemuda yang bangga akan bangsa membenahi dan memberikan warna perubahan pada negara dan bangsa kita sendiri. Mata dunia dengan reflek setelah itu akan memandang dan memperhitungkan kita lebih lagi.

Selamat Hari Sumpah Pemuda, jangan biarkan semangat kebangkitan pemuda luntur hari ini dan hari -hari ke depan.

Let’s we take one dream, one change from one youth to be one goal for better nation one !

Selamat Malam
🙂

 
1 Comment

Posted by on October 28, 2011 in Opini

 

One response to “One Youth, One Dream and One Changes for Better Nation One

  1. kolomkiri

    October 28, 2011 at 13:13

    getir dalam hati mewarnai Para Pemuda Indonesia

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: