RSS

‘Terpencil’ bukan berarti Tak Pantas Dibanggakan

09 Oct

Mencari suatu kebahagiaan di perantauan saat ini adalah satu hal yang bukan tabu lagi. Ibukota ataupun kota -kota besar jadi sasaran ‘amukan emosi’ dalam diri mereka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Jika ditilik itu hanya sebuah ‘harapan’ belaka. Dengan bermodalkan otot kekar saja mereka memberanikan diri untuk melawan ‘tonjokan -tonjokan udara’ kota perantauan. Logika saja, di kampung saja mereka hanya tidur, merokok, menenggak kejamnya secangkir kopi atau hanya sekedar nongkrong. Kreatifitas dan keuletan diri lah disini dipertanyakan. Okelah, jika di perantauan sana mereka bisa mendapatkan kebahagiaan materi dan rohani 100% lebih daripada mereka berada di kampung. Tetapi jika dikalkulasi saja, mungkin kebahagiaan itu akan tereliminasi menjadi 20% saja. Kalaupun mereka mendapat berjuta persen kebahagiaanpun, apa yang bisa mereka perbuat untuk kampung halamannya ? Mungkin hanya sebatas ‘cerita sombong’ jika dia sudah bisa bahagia dengajn kehidupannya. Itu dari sisi mereka -mereka yang sudah wajib untuk mencari kebahagiaan materi seperti yang dituntut oleh kerasnya dunia ini.

Dari sisi mereka -mereka ‘sang pengangguran produktif’ yang merantau untuk mencari secuil ilmu di perantauan demi masa depan katanya. Tak berbeda jauh dengan apa yang diungkapkan pada baris awal tadi. Sombong akan dimana dia sekarang tinggal, padahal itu hanya sementara. Mungkin sulit sekali dicerna jika siapapun yang membaca tulisan ini yang tidak memiliki rasa loyalitas, cinta atau bahkan arti kampung halamannya. Hal ini membutuhkan energi yang sepadan juga untuk bisa membagi ‘rasa sombong’ itu. Terlebih lagi, jika kampung halamannya itu tidak memiliki prestise yang bisa dibanggakan. Paling juga waktu mereka pulang kampung hanya tidur dirumah, makan, minum dan katanya memperbaiki gizi. Itu hanya pemikiran pendek belaka.

Mengapa bisa dikatakan seperti itu ? Terlebih dari kisah nyata yang dialami saat ini. Munculnya perumahan elite yang memaksa memisahkan jarak antara si kaya atau si miskin sudah merusak tatanan politik saat ini. Semua itu harus dimulai dari titik paling bawah dimana kita hidup. Kebersamaan antar tetangga benar -benar seperti air dan minyak, terlebih sarat dengan persaingan kekayaan.

Penulis merasakan benar apalah arti sebuah kampung halaman yang syarat dengan prestise dan kebersamaan yang luar biasa antar penguuni kampung tersebut. Meskipun berada di kota yang teramat sangat kecil jikan dibandingkan Yogyakarta, Semarang, Bandung, Surabaya atau bahkan California ataupun Los Angeles. Terlebih lagi berada di perbatasan provinsi yang terkadang jika berada di luar kota ditanya darimana asalnya harus menjelaskan dengan seribu alinea. Itu baru di perbatasan provinsi, bagaimana jika daerah itu berada di perbatasan antar negara yang dilihat dari peta saja hanya terlihat seperti setitik air ludah yang keluar karena tak disengaja. Namun itu tidak membuat penulis untuk berkecil hati. Malah kita bangga dengan kota kecil ini yang syarat historis. Lihat saja di peta, pasti anda berpikiran apa yang bisa dibanggakan dari kota yang agak terpencil dan kecil itu ?

Penulis bisa menjawab, BANYAK !

Lihat lebih ke dalam lagi,  terdapat sebuah kampung elite berada di tengah kota kecil yang seyogyanya bisa menjadi kota administratif sendiri bernama SIDOMULYO. Ditilik dari sisi arti pasti mereka -mereka yang berasal dari jawa pahamlah Sido = jadi dan Mulyo = mulya. Nama yang penuh dengan filosofi. Tetapi saat ini, apakah di kampung -kampung lain menimbulkan rasa sadar dan bangga akan kampungnya tanpa memandang nama itu bisa ? Penulis kira tidak semudah itu fakta yang terjadi. Apalagi mengumpulkan warga mereka yang terdiri dari beberapa jenjang dari mereka yang masih duduk di bangku TK, SD, SMP, SMa hingga yang sedang merantau untuk kuliah ataupun kerja. Tapi berbeda cerita jika anda menapakkan kaki anda di kampung ini.

Mereka -mereka lah yang akan menyambut anda jika suatu saat anda tiba di kampung ini. Tentu tidak juga dengan berpakaian seperti itu secara kontinyu. Tetapi dari gambar diatas bisa menggambarkan bagaimana kebersamaan beberapa lapisan kampung ini.

Berbicara prestise, jangan ragukan potensi kampung ini. Secara kreatifitas, kita sudah bisa berbicara banyak hingga tingkat propinsi Jawa Tengah. Semua ini berkat mereka -mereka di atas. Dari merekalah diharapkan akan muncul pemimpin -pemimpin pengganti pemimpin busuk saat ini. Dengan mereka dapat membaur dari semua golongan, dapat membaur juga saat mereka kelak menjadi pemimpin nantinya.

Dengan ini ditampilkan pula beberapa gambaran betapa kreatif, inovatif dan akrabnya untuk membanggakan sebuah kampung dimana mereka semua dibesarkan.

Dari coretan ini bukan hanya memamerkan suatu karya saja tetapi lebih dari itu, memotivasi bagi kita semua untuk lebih bangga terhadap tanah kelahiran kita yang sebenarnya lebih subur daripada tanah orang lain. Dari proses inilah kita memulai diri untuk MengIndonesiakan Indonesia, jika dari hal dasar ini belum terbentuk jiwa -jiwa yang akan mencintai dan rela mengabdi untuk tanah kelahirannya yang lebih kompleks.

Terakhir penulis ucapkan Terima Kasih dan Bangga untuk segenap warga Sidomulyo yang sudah mengajarkan nilai -nilai yang tidak kecil lagi untuk dapat memahami Kebanggaan diri terhadap tanah ini. Jaya terus THE – SID (sebutan Sidomulyo -red), Jaya selalu Indonesia. Di pundak kami inilah, masa depan tanah kelahiran dan Negara ini.

Jangan pernah tanyakan apa telah tanah kelahiranmu berikan, Tanyalah pada dirimu apa yang telah kamu berikan untuk tanah kelahiranmu !

Selamat Siang !

 
Leave a comment

Posted by on October 9, 2011 in Budaya

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: