RSS

Mengindonesiakan Indonesia

05 Oct

Let’s start with my first scratch. Now, juat a little about us ! I will not say ‘me’, ‘you’ or ‘they’ but ‘Us’

What do we think about ‘bangsa’ ? Then, can we explain about ‘Indonesia’ ?
Ya, dengan kualitas dan taraf pendidikan penduduk kita yang rata -rata masih berada di bawah negara lain, sedikit sulit memang membedakan dua kata itu. Jika saja kita menilik sedikit ke belakang pada proses terbentuknya Indonesia ini, penduduk lah yang pertama kali ada atau biasa kita sebut ‘Bangsa’, barulah Indonesia ini terbentuk melalui suatu pergulatan fisik maupun jiwa demi sebuah harga diri. Kita tidak akan banyak membahas tentang bagaimana ‘kita -kita’ dahulu.

Saat ini menilik bagaimana kita sebagai bangsa yg mendiami sebuah Indonesia mulai kehilangan jati diri kita, bukan karena budaya luar. Terlalu picik menilai seperti itu. Yang (sebenarnya) kita telah pahami bahwa Dasar Negara Indonesia (Pancasila -red) merupakan pandangan hidup bangsa ini yang dapat menerima dengan fleksibel perkembangan apapun dari luar bangsa kita, dengan catatan tanpa harus menggugurkan jati diri bangsa kita. Tetapi kenyataannya ?

Jangan salahkan ‘wakil -wakil kita’ yang duduk di kursi empuk dengan ruangan ber -AC, kita lihat saja pada diri kita moral dan ke -Indonesiaan siapa yang memang seperti kapas. Bukan berarti tulisan ini memihak pada ‘para wakil’, ini juga sebagai bagian introspeksi pemuda kita. ‘Belum siap’ adalah kata yang pas disematkan untuk kita. Tetapi kita tidak bisa menghindari itu. Banyak lah yang berdampak positif, tetapi terkadang itulah yang menjadi pisau bermata ‘lima’ buat kita. 200 juta lebih kepala di negeri ini tidaklah punya satu pemikiran yang benar -bbenar mengerucut pada dua atau tiga gagasan yang akhirnya akan teriliminasi seperti halnya pencarian bibit berbakat yang akan memunculkan satu saja gagasan. Kini BHINNEKA TUNGGAL IKA tinggal sebuah hiasan dinding di gedung -gedung SD sampai SMA. Bahkan jika kita mau melihat sedikit saja ke wakil kita yang diatas pun tidak menunjukkan ke -bhinneka tunggal ikaannya. Apa seharusnya sebelum menjadi Presiden, Wakil Presiden, Menteri, anggota DPR/MPR harus ditempa dulu di satuan kemiliteran untuk mendapatkan jiwa -jiwa yang ‘korsa’ yang seharusnya menjadikan suatu pembelajaran ketika membangun, menjalankan bahkan hingga bertanggung jawab atas kesalahan ditanggung bersama ? Tetapi perntanyaan susulan pun muncul lagi, apakah yang men-training juga sudah berjiwa korsa ? wong banyak aparat juga kalau naik kereta atau bus saja ogah bayar! Ya, hal ini akan terus berputar layaknya proses terjadinya hujan. Bukan berarti kita itu ‘benar’ karena terlalu banyak orang -orang pandai dan cerdas di Indonesia ini, tetapi kita benar -benar membutuhkan ‘SATU’ pemimpin yang benar -benar mengutamakan Bangsa dan Indonesia ini. Memang tidak mudah memilah dan memilih hal itu.

Kita tidak akan pernah menyalahkan Bapak/Ibu yang ada di atas sana bahkan sekaligus sistemnya. Berbeda pengelola, beda juga sistemnya. Tetapi kita butuh wakil kita yang berbasis Bangsa bukan Rakyat ! Kenapa ? Selama ini kita menyebut Bangsa ini adalah rakyat, tetapi disinilah mereka -mereka yang menganggap kita miskin. Apakah Indonesia hanya dihuni orang -orang miskin ? Tidak ! Kita kaya, meskipun kekayaan itu tidak hanya terletak pada materi itu semata. Menurut teori, materi akan mengikuti sebuah proses yang kita usahakan.

Menurut saya pribadi, pekerjaan rumah terbesar saat ini untuk kita adalah ‘MengIndonesiakan Indonesia’ ini. Indonesia yang kedua itu bisa berarti bangsa kita, saya, anda, mereka dan kita yang berada pada wilayah dari sabang sampai merauke. Tidak mudah memang, tetapi tidak ada hal yang tidak mungkin. MengIndonesiakan kita berarti juga mengembalikan kita untuk mendalami hakikat bangsa Indonesia pada dasar kita. Pemuda adalah salah satu sasaran yang konkret untuk meluruskan ideologi yang sudah miring ini, agar kelak tidak ‘banyak’ terjadi kebusukan -kebusukan yang terjadi saat yang lalu ataupun saat ini yang mungkin jika saja ditulis disini tidak akan selesai untuk satu minggu. Nilai -nilai dasar seperti kejujuran, keikhlasan, dan yang terpenting adalah mencintai, memiliki dan bertanggung jawab atas negara yang ‘kita -kita dahulu’ bentuk, namun bukan hanya negara Indonesia dan pencitraan oleh negara lain, tetapi juga pada sesama bangsa Indonesia yang lain. Sukar memang, tapi dengan 66 tahun Indonesia hidup belumlah terlambat, bahkan negara -negara lain yang berumur ratusan tahun pun masih banyak terjadi apa yang kita alami. Bukan ingin memusnahkan kebusukan itu, tetapi memperbaiki dan membangun lagi citra jelek dari mata bangsa kita sendiri. Kita sadar seharusnya, di pundak kitalah bagaimana Negara dan Bangsa Indonesia untuk 10, 20, bahkan ribuan tahun ke depan. Take and do the changes ! Kita mulai perubahan dari dasar, membuat atau restanding pondasi ke-Indonesiaan kita mulai dari sekarang, saat kita muda, saat kita masih memiliki daya dan tenaga untuk dipersembahkan.

Kata ‘MengIndonesiakan Indonesia’ merupakan satu frasa kata yang agak tepat melihat kondisi saat ini, khususnya pada para pemuda. Tetapi hal ini bukan hanya untuk para pemuda saja dan bukan berarti lagi yang sudah hampir menghabiskan kehidupan ini juga pasrah dan tidak bertanggung jawab. Tetapi kali ini, apa yang ditulis merepresentative-kan semangat pemuda untuk membuat perubahan demi Bangsa dan Indonesia.

Indonesiakanlah Indonesia ini, entah bagaimana itu sistem dan pengelolaannya. Dengan semangat niat tulus pemuda bangsa ini, kita juga bakal bisa mewujudkan Bhinneka Tunggal Ika. Mecari ridho Tuhan bukan dengan menghancurkan yang ‘mereka’ anggap ‘kafir’ saja, tetapi mengabdikan pada negara dan sesama bangsa Indonesia pun juga merupakan ibadah dan InsyaAllah akan mendapat ridho Tuhan.

Mari kita MengIndonesiakan Indonesia pada diri kita terutama, dan ajaklah pemuda -pemuda lain, adik -adik kita atau bahkan kita dapat memberikan sebagian kepada orang yang kita anggap lebih tua atau siapapun. Tidaklah kita harus Sarjana, Master, Doktor ataupun Profesor. Cukup berbekal rasa cinta kita, rasa memiliki kita terhadap tanah yang kita tempati ini dan juga saudara ‘bangsa’ kita, niscaya kita akan jadi pemuda yang berguna untuk Indonesia.

Terima Kasih…

 
Leave a comment

Posted by on October 5, 2011 in Indonesia ?, Opini

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: