RSS

sunday is about nothing to lose

they’re part of my happiness

image

image

image

 
Leave a comment

Posted by on November 29, 2013 in Uncategorized

 

37

PLN angkatan 37 datang dengan semangat yang baru. Berbeda tetapi tetap satu (untuk maju). Siap MENGABDI UNTUK INDONESIAKU. PLN angkatan 37. Ku belajar sama-sama, ku berlatih sama-sama. Ditempa pun sudah biasa. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, PLN angkatan 37
image

 
Leave a comment

Posted by on November 29, 2013 in Uncategorized

 
Image

image

maybe, it’s the reason

 
Leave a comment

Posted by on November 9, 2013 in Uncategorized

 

sequel of part – kamu adalah intuisi

Ribuan gundah terlampau sering berkunjung. Tanpa ketukan pintu, pun seruan salam. Bergerombol hadir. Nyaris, tak berdaya.

Ragu, rindu, ketakpastian, peduli, benci, cinta.

Berteguh pada prinsip dan janji diri. Entah adakah gundah dibenakmu?

Mengakar pada kesabaran tak berbatas. Keras. Mencoba menerima dan menjagamu. Dengan caraku. Sedikit memaksa, tak jarang membuatmu tersiksa.

Rindu, senyum saat rambutmu terusap. Menggenggam kakunya jarimu di tengah dingin malam. Kecupan dahi yang sedikit memberi arti, aku kan berusaha ada dan saling menjaga.

Namun luasnya duniamu, hampir pasti tak dapat sedikitpun ku jamah. Ironis, bagian kosong tak bersisa berisikanmu.

Gusti, jangan kau bekukan hati. Karena bela adalah intuisi. Nyata dan benar berarti.

 
Leave a comment

Posted by on November 5, 2013 in nothing

 

Tags:

sequel of a part

Rindu. Ku rindu senja sabtu yang lalu. Menyendiri dari kerumunan. Menikmati kretek. Sembari berharap kau menyusul.

Sepintas. Kau menampakkan diri. Bersama kameramu. Di tengah obrolan senja. Bersama kawan.

Kau menghilang. Sejauh memandang tak nampak ada di gerombolan. Terus ku teliti. Kaos dan kerudung cokelat. Rupanya pun tak nampak di bawah pepohonan. Terus. Berjalan ke barat. Di tepi lautan. Di atas bebatuan.

Kau duduk menikmati hembusan ombak. Sendiri. Dengan lensamu. Membidik panorama.

Mendekat. Tak bersuara. Memberanikan diri duduk di tepimu. Membuka obrolan senja dengan senyum manismu.

Sebuah tangan mendekat. Menyodorkan sebuah pocket camera. Menunjukkan gambar horizon. Hitam putih. Aneh. Justru itu kau tersenyum. Sebuah siluet manis senja ramai tepian pantai.IMG-20130202-WA0001

‘Lensa paling bagus apa?’ tanyamu. ‘Kamera?’ masih saja ku tak paham. Senyum simpulmu disusul bisikan. MATA. Itu jawabannya.

‘Mata, lensa paling sempurna. Mata juga punya banyak mode. Ada grey, sephia dan sebagainya. Ayah buta warna parsial.’

Betapa sempurnanya wanita di sebelah pikirku. Selalu menghadirkan senyum.

Senja semakin lengkap ditemani beberapa burung yang terbang berpasangan.

Sejenak terdiam. Sayup-sayup terdengar lantunan lirik. Kau menyayi.

We live on a mountain
Right at the top
There’s a beautiful view
From the top of mountain
Every morning I walk towards the edge
And throw little things off

Hyperballad. Batinku.

Mentari semakin turun. Mata tertuju ke barat. Sayang. Belum di beri kesempatan menikmati mentari tenggelam.
Senyum. Tawa. Canda. Mengiringi senja berlalu. Langkah berat kembali ke timur.
Rindu tak sebanding waktu.

Langit semakin gelap. Tampak puluhan cahaya disana. Manjamu yang kurindukan pun keluar. Tak ingin kembali. Melewatkan malam disana. Bersama laut, pantai, bintang, malam.

Menuju keramaian malam sebuah kota tepian. Kesederhanaan dan senyummu membuat waktu terasa cepat berputar.

Senja dan malam itu. Senyum tak pernah berhenti. Canda tawa begitu mengalir.
Sesekali ku menoleh. Ke belakang. Sekadar menikmati senyummu di atas motor yang cukup tua.
Roda berputar. Hingga di tengah perkampungan sepi. Hening malam terpecahkan.
‘Aku sayang kamu.’ Ku genggam tanganmu. Semakin erat. Waktu berlalu cepat.

Semakin larut. Kau kembali menuju kamarmu. Kunikmati malam di tepian jalan. Bersama pemutar musikku. Di depan kamarmu. Bulan malam itu mulau menampakkan diri. Meskipun malu-malu. Hanya setengah.

When the moonlight shines
And all of stars smiling
Now the time has come
You leave me all behind

I’m not feeling fine
I’m feeling down
When the moonlight smiling
With his pearly smile

I think is very funny
How does life could be?
Once you appear with a grin

And now you really left me
With no one to hold me
As time goes by I will drown

‘Ah, mocca’s day! Pikirku

Sayang. Kau sudah lelah. Tak apa. Kunikmati sendiri. Menjaga malammu di depan jendelamu.

Kau datang rupanya. Lewat tulisanmu. Kau bercerita, menunggu senja itu. Aku menyusulmu ke barat. Selalu menoleh ke belakang saat kau berjalan.

Kau lanjutkan bersama gambar.

IMG-20130202-WA0000

Di kursi bambu itu. Akhirnya kau menunggu. Namun tetap. Tak kunjung datang. Kau lanjutkan. Mendekat ke laut. Duduk di atas bebatuan. Memainkan lensa.

‘Ternyata kamu lihat’ dan ‘aku juga kangen kamu sejujurnya.’ Begitu katamu. Kau teruskan melankoli malam itu dengan pesanmu. Malam berlalu begitu cepat.

Pagi. Minggu, harus kembali ke kotaku. Belum cukup rasanya menghabiskan waktu bersamamu. Kau mengajak bertemu di jalan pulangku. Seperti biasa. Kau sendiri. Masih dengan kaos dan kerudung cokelatmu. Tanpa alas kaki. lari pagi, katamu. Menuju hutan yang ditakuti banyak pendatang desa. Kau tampak semakin cantik pagi itu. Tanpa riasan.

Ingin selalu ku tolehkan wajah ke belakang. ‘Aaaah, hutan’ teriakmu. Senyum bahagiamu melihat hutan lebat. Sudah lama tampaknya kau tak menikmati udara hutan.

Canda tawa terus mengalir. mengantarkan pada sebuah persimpangan. Kau kembali ke desa sementaramu. Dengan keseharianmu. Untuk ayah, ibu dan adikmu. Seperti kau ceritakan sore itu.

Aku kembali ke rumahku. Empat jam dari desa itu. Bersiap untuk semakin jauh. Sembilan puluh hari ke depan. Ah, entah kapan bisa seperti ini lagi bersamamu. Entahlah. Berbeda kota ataupun pulau. Yang pasti akan merindukanmu. Selalu.

 

 
Leave a comment

Posted by on February 6, 2013 in nothing

 

Tags: , ,

Tentang Hitam

Tentang hitam, biarkan saja kelam!
Bagimu.
Menjadi biru pun bukan kau
Memerah pun bukan mereka
Memutih pun berujung mati

Biar saja tentang hitam.
Jika biru tentang menghantam syahdu
Biar hitam tentang diam
Merah pun begitu tentang amarah

Kau lupa tentang jingga?
Jingga terus menghembus tentang tawa
Biru jika hitam
Biar jingga di perandaian

Ini tentang hitam
tentang biru
tentang merah
tentang jingga

biar saja, kelam
biar saja, diam
biar saja, hantam
biar saja, marah
biar saja tawa

 
Leave a comment

Posted by on December 11, 2012 in Puisi

 
Quote

Biarkan keyakinanmu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan keningmu dan sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yg akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yg akan lebih sering melihat ke atas

-5 cm-

 
Leave a comment

Posted by on August 29, 2012 in Quote