RSS

Pemuda-Intelektualitas –Pergaulan (PIP), Sehatkah Generasi Bangsa?

27 Feb

Oleh : Lori Mora, Kolom Kiri

Ketika membaca salah satu tulisan disebuah harian media nasional, disana dinyatakan bahwa pemuda adalah awal pergerakan bangsa, awal dimana reformasi dimulai dan tumbangnya masa orde baru dalam beberapa dekade yang lalu. Pemuda adalah mereka yang berpotensi untuk terus belajar dan berkarya dengan cara pandang dan jati dirinya. Tak ada batasan bagi pemuda untuk berkarya dan berdayaguna ditengah-tengah masyarakat maupun bangsa. Pemuda adalah kaum intelektual, gudangnya para kaum revolusioner serta awal munculnya pergerakan-pergerakan para pembenci perbudakan dan penjajahan – orang-orang yang tidak suka dikekang.

Identiknya pemuda sebagai generasi bangsa adalah bibit dari lahirnya para pemimpin-pemimpin bangsa kelak. Maka untuk mencetak para pemimpin, terlebih dahulu harus membentuk para muda bangsa sebagai tonggak kelahiran manusia-manusia yang sanggup menghasilkan pemikiran dan pergerakan. Dimana pemuda memiliki identitas sebagai kaum intelektual bangsa. Merekalah yang pada akhirnya akan mengenakan mahkota kekuasaan yang seperti banyak kaum politisi lakukan saat ini.

Berintelektual rentan artinya bagi kalangan masyarakat sebagai seorang yang terdidik dan paling tidak belajar disekolah formal dan mendapat pengajaran secara akademik. Tapi benarkah berintelektual harus selalu diartikan demikian? Di dalam masyarakat, ukuran dari tingkat intelektual seseorang adalah gelar yang didapatkan. Tampaknya memang sudah mutlak dan masyarakat berterima dengan perspektif itu. Namun tidak dengan seorang Tan Malaka. Meskipun sudah beberapa kali mengenyam pendidikan di luar negeri, dia tak sekalipun menyelesaikannya hingga tuntas. Tetapi dia adalah salah seorang founding fathers Indonesia yang dikenal sebagai pemikir dan kaum terpelajar. Baginya gelar tidak cukup penting dari pada pemikiran. Anehnya, dia malah menyatakan dengan penuh pendirian bahwa asal dapat memperoleh ilmunya yaitu membangun bangsa, dia rela tidak mendapatkan gelar.

Kegemarannya bertualang keseluruh pelosok negeri, dianggapnya adalah sebuah proses belajar dan berfikir. Sejak mudanya, Tan Malaka sudah banyak berkelana untuk mencari ilmu dan pandangan yang dianggapnya harus dibentuk dari segala aspek yang dapat dilihat dan diamati disekelilingnya. Dia menamakannya sebagai proses pencarian jati diri, menumbuhkan kepekaan dan ketajaman dalam merespon segala sesuatu yang terjadi disekitar, dan kemudian menghasilkan sebuah pemikiran yang akan berdayaguna bagi pembangunan dan kesejahteraan bangsa. Dilingkunganlah pada awalnya Tan Malaka membentuk dirinya menjadi seorang pemuda yang peka dan ingin berbuat bagi bangsanya.

Lalu bagaimana dengan pemuda bangsa saat ini? Pandangan yang sebelumnya tentunya tidak akan pernah pudar dari setiap pemahaman masyarakat. Mendapatkan gelar memang penting, tetapi apakah pemuda dibentuk secara kokoh melalui pendidikan itu merupakan soal yang paling penting.

Eksistensi Pemuda Masa Kini

Sisi kehidupan memang sudah dibagi dalam dua bagian sejak dari awalnya. Ada putih maka ada hitam, ada Yin maka ada pula Yang. Disanalah pemuda pun mengambil perannya masing-masing. Ada yang dibentuk sudah menjadi pribadi yang mencintai kebebasan, dan ada pula dari mereka yang cenderung terkungkung dan berada dalam tekanan. Tidak kritis, tidak peka dan tidak beraksi.

Disekitar tempat tinggal saya, banyak sekali saya temukan pemuda yang berada disisi Yin dan sisi Yang. Mereka adalah kaum mahasiswa/i yang sedang membentuk diri menjadi kaum berintelektual secara akademik. Memang bila dibandingkan dengan zaman para pendiri bangsa, pemuda zaman ini cenderung mengalami degradasi dalam sisi kritisnya. Bahwa salah satu kemerosotan dalam segi intelektualitas pemuda adalah kecenderungan malas bertukar pikiran dengan rekan sekelilingnya di meja diskusi dan mempertajam kepekaan akan sekitar. Pemuda terbawa oleh arus masa, malas untuk berpikir keras, jati diri dan orientasi hidup yang tak jelas. Faktanya hanya segelintir muda yang berjiwa militan dan menggunakan intelektualitasnya bagi kemajuan bangsa

Sisi lain jiwa kepemudaan yang marak adalah kebebasan tanpa limitasi (batasan). Memang kebebasan adalah jalan pencarian jati diri, akan tetapi kebebasan yang terjadi adalah kebebasan yang melanggar etika dan norma-norma kehidupan yang ada. Dalam pengamatan saya sehari-hari terkhusus kepada mahasiswa/i, hal paling nyata yang dapat mencerminkan adalah kepunahan kreatifitas mahasiswa/i dalam membentuk mental dan pola pikir yang militan dan intelektual. Kecenderungan dalam pergaulan menjadikan kebebasan menjadi sangat buruk. Terjadinya pelanggaran norma, pencemaran dan tindakan kriminalitas yang menjadi semakin marak.

Di tempat saya tinggal, kecenderungan pemuda yang tampak adalah ketidaksadaran lingkungan, peranan, dan kepatuhan norma kehidupan. Semisal, tindak kekerasan, pergaulan bebas, ketidaksadaran lingkungan serta tidak nasionalis. Zaman ini, hal tabu menjadi kebiasaan dan kesenangan. Lain lagi dari segi gaya hidup, pemuda lebih memilih untuk hidup berlebihan dengan barang import yang terkini. Sifat konsumerisme yang melekat kuat menjadikan pemuda masa kini berlomba untuk tidak ketinggalan jaman. Mereka sudah lebih tergantung pada style kekinian, merek barang terkenal, hedonis, pergaulan yang rusak, pemakaian narkoba. Fenomena ini jelas menyimpang dari artian kebebasan yang menurut Tan Malaka sebagai makna sebuah pelepasan diri dari kungkungan yang tidak memberi kebebasan dalam berekspresi.

Sehat Jasmani dan Rohani

Tentunya bangsa ini dipercayakan kepada para muda yang tentunya memiliki beban dan panggilan untuk maju membenahi bangsa ini bersama-sama secara jujur, tulus serta seimbangnya kesehatan jasmani dan rohaninya. Memaknai semangat, cita-cita, kreasi dan masa depan yang terletak ditangan para muda tidak seperti meletakkan kepercayaan kepada orang yang tidak dikenal. Tan Malaka berkata bahwa “ Keseimbangan bangsa ini haruslah tertata dengan baik, mencakup keseimbangan jasmani sekaligus rohani (Tan Malaka-The Leader Secrets of)” Itu artinya bahwa jasmani tak dapat dipisahkan dengan rohani.

Sehatkah generasi bangsa, bila setiap hari kita harus mendengar terjadinya kerusuhan, tawuran antar pelajar, maraknya prostitusi, kriminalitas, balapan liar, narkoba dan egosentris yang semakin tinggi? Media tak pernah berhenti membeberkan bagaimana pemuda beraksi secara amoral yang berdampak bagi wajah bangsa. Lalu masihkah generasi kita sehat?

Bangsa ini membutuhkan pemuda berintelektual, peka, menyukai tantangan, rela berkorban, dan berani. Pergerakan itu dimulai dari mahasiswa untuk mengawasi keganjilan-keganjilan dilingkungan sekitarnya, baik dalam birokrasi, dalam masyarakat, pemerintahan, dan dalam kehidupan keseharian.

Lalu untuk membentuk jiwa muda yang berapi-api dan berkarya untuk negeri, maka harus dimulai dengan membenahi diri. Hal yang paling sederhana adalah jauhilah narkoba, jauhilah free sex, jauhilah tawuran, jauhilah kekerasan, batasi penggunaan teknologi yang salah (misal: akses internet, video game, alat komunikasi elektronik bebas pakai). Hadirkanlah kedamaian sebagai buah dari hasil pemikiran, harapan dan sumbangsih untuk membangun negeri. Bagi kita para muda, mari ulurkan tanganmu, singsingkan lengan bajumu, perluas cakrawala dengan menjelajah dunia yang penuh inspirasi ini. Lalu dedikasikan segala pengalaman itu bagi negeri, sama seperti para Founding Fathers yang dulu muda tumbuh dan berjuang demi bangsa. Belajar keras hingga Eropa dan berpindah dari barat ke timur untuk mencari bagaimana Indonesia dapat dibangun dan sejahtera. Selain diperlengkapi dengan intelektualitas, bergaul secara positif dan beraksi, keseimbangan jasmani dan rohani merupakan hal utama. Itu yang harus dimiliki para pemuda. Kalau negara saja menghalalkan para pemuda untuk merusak diri, bagaimana mungkin negara akan memiliki generasi muda yang baik kelak secara jasmani dan rohani.

Posted with WordPress for BlackBerry.

 
Leave a comment

Posted by on February 27, 2012 in Indonesia ?, Opini

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 299 other followers

%d bloggers like this: